Aku Suka Kamu

3 years ago 0 Comments

Ketika cinta yang kita beri pada seseorang, namun dengan gamblangnya dia katakan tidak pada kita, disitulah jati diri kita yang sebenarnya yang akan meluluhkan hati yang beku.

“Ra, liat deh akang itu ganteng banget yah” ucap chintya pada zahra teman barunya di smk negeri 3 sukabumi.
“Yang mana sih?” tanya zahra pada chintya sembari melihat sekitaran taman sekolah.
“Yaelah, itutuh yang lagi jualan cireng” ucap chintya dengan menunjukkan jari tangannya pada seorang lelaki yang tengah melayani pembeli.
“Ohh, kalo itu sih kang anzas namanya, tapi menurut aku kang raihan deh yang paling imut” chintya tak mengindahkan kalimat terakhir zahra yang ia simak adalah nama lelaki yang tengah ia perhatikan bernama anzas.
“Anzas?” senyum senangpun terukir pada wajah chintya, ia langsung merogoh handphone yang ada pada saku roknya.

“Kamu lagi ngapain sih chin, kok serius banget sama handphonenya?” tanya zahra
“Ahhh asiikk akhirnya ketemu juga yuhuuu” zahra terkejut karena suara teriakan chintya yang membuat orang-orang yang tengah berlalu lalang di daerah mereka berdua tengah duduk pun memandang chintya sepintas dengan pandangan aneh bercampur heran.

Zahra dan chintya kembali ke kelas 10 tata kecantikan 1 yang berada di rusng teori b3.
Sepulang sekolah zahra menanyai chintya pasal tadi ketika mereka tengah istirahat.
“Ohh ini ra, aku tuh nemuin akun medsosnya kang anzas, aku lokit-lokit dulu yah” chintya tak sempat menyapa zahra karena ayahnya telah berada di gerbang sekolah, hingga di atas motor pun chintya tetap menatapi handphonenya sembari tersenyum kagum.

Keesokan hari di sekolah chintya yang tengah berjalan tak sengaja menabrak seseorang.
“Aduhh, ehh maafin kang aduh makanannya jadi jatoh kang aduh gimana dong” chintya panik karena orang yang ia tabrak adalah lelaki bernama anzas dan yang lebih parah ia menjatuhkan semua cireng yang anzas bawa.
“Aduh teh kalo jalan itu liat-liat dong, jadi dagangan saya jatoh kan nanti siapa yang ganti rugi” anzas marah pada chintya hingga nyali chintya menciut dan tak berani melihat ke arah wajah anzas.

Lama chintya berdiri dan ketika ia mendongakkan kepalanya ia sudah tak melihat anzas di depannya, ia merasa tak enak hati pada kakak kelasnya itu, chintya pun pergi ke dalam kelasnya, sepanjang pembelajaran berlanjut chintya tak bisa fokus ia sedari tadi memikirkan cara untuk meminta maaf pada anzas.

“Chintya, kamu jangan cemberut dong, udah soal kang anzas mending menurut aku kamu nyanyi aja di acara 17 agustusan, kan minggu depan kita ada acara 17an tuh nah ternyata salah satunya ada lomba karaoke, gimana?” saran zahra
“Wahh, bener juga yah ra, kamu paling top deh” ucap chintya.

Hari 17 agustus pun tiba, setelah melaksanakan upacara, chintya mengganti seragamnya dengan gaun yang begitu indah ia akan menyanyikan sebuah lagu afgan yang berjudul jauh, sudah lama chintya mencari lagu yang pas, namun entah kenapa chintya memilih lagu ini.

Ketika nama chintya terpanggil, ia pun naik ke atas panggung, dan tepat sekali di depan panggung anzas tengah berdiri dengan kamera di genggamannya, mungkin ia tengah mendokumentasikan acara, karena ia pun salah satu anggota osis.

Lantunan lagu itu pun terdengar ke seluruh penjuru area sekolah, anzas yang tengah memotret tiba-tiba berhenti dan memfokuskan pandangannya pada chintya, hingga mereka saling bertatap.

Kurang dari 10 detik anzas telah memalingkan wajahnya, ia pergi dan memberikan kamera dslrnya pada temannya.
Hati chintya sakit, namun ia tetap dapat mengontrol emosinya dalam bernyanyi.

Setelah selesai bernyanyi ia bergegas turun dan dengan tekad yang kuat ia mencari anzas, setelah bertemu dengannya di ruang osis yang kosong.
“Kang anzas” panggil chintya di ambang pintu, sehingga anzas pun menengok ke arah chintya berdiri, ia menampilkan wajah datarnya.
“Aku suka sama akang” teriak chintya dan memejamkan matanya tak lama ia membuka kembali matanya dan langsung menutup pintu tersebut.
Ia berlari dengan berlinang air mata, sungguh dirinya sangat malu atas kejadian tadi.

Kini ia sendiri berada di ruang uks, ia berbaring dan terdengar suara seseorang bernyanyi sembari memainkan sebuah gitar, ia pikir itu adalah salah satu peserta lomba, namun ending yang ia dapat adalah
“Lagu ini saya persembahkan untuk balasan cinta kepada chintya” chintya refleks berdiri dan berlari ke arah lapangan, ia melihat anzas baru saja turun dari panggung, dan bagaikan memang berjodoh mereka bertemu pandang, hingga chintya tak kuasa merasakan perasaan yang sungguh luar biasa, ia pun berlari dan memeluk anzas di hadapan seluruh warga sekolah, dan yang lebih beruntung para guru tidak ada pada saat kejadian terjadi, sehingga chintya merasa aman.

Kadang cinta tak perlu membutuhkan waktu lama, untuk memantapkan diri dengan melakukan sebuah hubungan, dengan adanya sebuah hubungan itupun kita dapat menjalaninya dengan saling mendalami kasih sayang.

Cerpen Karangan: Nazia Nabila
Blog: Naziastory11.com

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


Aplikasi UP Station
telah tersedia sekarang
Buka Artikel
Download Aplikasi