Alasan Kenapa Bocil FF Bisa Jadi Aset Negara yang Berharga

6 months ago 1 Comment 1,071 views

Jika mendengar tentang game Free Fire, apa yang pertama kali muncul di benakmu? Mungkin, salah satu yang langsung terpikir (dan membuat tertawa) adalah bocil epep atau bocil FF yang kerap dijadikan bahan lelucon dan meme.

Kenapa seperti itu? Karena game buatan Garena tersebut kerap dimainkan oleh anak-anak usia sekolah, baik tingkat dasar maupun menengah. Dengan kata lain, dimainkan oleh bocil (bocah kecil).

Hal ini sangat wajar mengingat pemain tidak membutuhkan smartphone dengan spesifikasi gahar untuk bisa memainkan Free Fire, beda dengan game sejenis seperti PUBG Mobile. Para bocil yang rata-rata belum bisa menghasilkan uang sendiri itu pun bisa memainkan dan merasakan keseruan game battle royale.

Baca juga:

Negatifnya, kebanyakan bocil tersebut belum dewasa (karena masih kecil, tentu saja) sehingga kerap bertindak toxic dan meresahkan. Mereka dianggap hanya “bacot doang” tanpa diiringi dengan skill yang mumpuni.

Parahnya lagi, mereka terasa begitu overproud dengan Free Fire. Tidak hanya menganggapnya sebagai game terbaik walaupun memiliki grafis yang dianggap “burik”, perusahaan induknya juga sering diagung-agungkan. Bahkan, ada beberapa bocil FF yang menganggap anime populer Attack on Titan adalah buatan Garena!

Karena beberapa alasan inilah bocil FF semakin didiskreditkan dan hanya dijadikan bahan tertawaan semata. Mereka seolah hanya menjadi bukti kalau pemain game FF banyak yang toxic dan hanya dimainkan oleh anak kecil

Padahal, ada potensi yang membuat mereka bisa menjadi aset negara yang berharga. Dengan pengarahan yang tepat dan fasilitas yang cukup, mereka bisa mengharumkan nama bangsa di mata internasional.

Demografi Esports di Indonesia

bocil-ff-1
Internet Indonesia (via apkominfo)

Indonesia telah diakui sebagai salah satu negara dengan pasar yang paling dinamis untuk game dan esports. Meningkatnya pengguna internet dan smartphone menjadi salah satu kunci utamanya.

Tidak hanya negara keempat dengan penduduk terbesar di dunia, negara kita juga menjadi negara keempat dengan pengguna internet terbesar. Dilansir dari Niko Partners, setidaknya ada 171 juta penduduk kita yang terhubung dengan internet dan 83 juta penduduk merupakan pengguna smartphone.

Kedua hal tersebut menjadi parameter yang penting bagi perkembangan industri esports, terutama game mobile yang cenderung lebih mudah diakses oleh banyak orang dibandingkan PC dan konsol.

Bukti lain kalau esports memiliki potensi yang begitu besar adalah besarnya dukungan pemerintah dan swasta. Ada banyak esports’ event yang diadakan, termasuk oleh industri non-game seperti PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) dan Indofood.

Data di tahun 2019 menunjukkan kalau ada tiga game yang paling populer sekaligus menghasilkan revenue terbesar dari pasar Indonesia: Garena Free Fire, Mobile Legends: Bang Bang, dan PUBG Mobile

Bisa dibilang, ketiga game tersebut juga menjadi game yang paling sering dilombakan dalam berbagai ajang kompetisi esports baik di Indonesia maupun dunia. Di ajang Sea Games 2021, ketiga game tersebut masuk ke dalam kategori perlombaan.

Alasan Free Fire Mendominasi Pasar Indonesia

bocil-ff-2
Dominasi Free Fire (via VOI)

Jika para gamer di negara maju diberikan pertanyaan apa game favorit mereka, mayoritas akan menjawab Fortnite, PUBG (versi PC), dan Apex Legends. Jawaban akan berbeda jika pertanyaan tersebut diajukan kepada gamer di kawasan negara berkembang seperti Amerika Latin dan Asia.

Free Fire tentu saja termasuk ke dalam game yang paling populer. Berdasarkan data dari App Annie pada tahun 2020, game ini menjadi most downloaded game di dunia, baik untuk perangkat iOS maupun Android.

Seperti yang sudah disinggung di atas, faktor ekonomi menjadi alasan utama mengapa masyarakat di negara berkembang, termasuk Indonesia, lebih memilih Free Fire dibandingkan Fortnite ataupun PUBG. Meskipun semua game tersebut juga bisa dimainkan di smartphone, dua nama terakhir membutuhkan spesifikasi yang tinggi.

Selain grafis yang “seadanya”, Free Fire dapat menawarkan apa yang dimiliki oleh game battle royale lain: permainan survival yang kompetitif, multiplayer dengan teman, pilihan senjata yang beragam, dan masih banyak lainnya. Apalagi, Garena selaku pengembang selalu memberikan update yang membuat game ini semakin bagus, baik dari segi performa maupun penampilan.

Popularitas Free Fire di Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya membuatnya bukan sekadar game untuk dimainkan oleh bocil, tetapi menjadi game yang dikompetisikan dengan jumlah hadiah yang fantastis.

Free Fire di Kancah Esports

bocil-ff-3
Ajang Esports (Jakarta Globe)

Ada beberapa turnamen esports untuk game Free Fire. Untuk kawasan Asia, mungkin yang terbesar adalah Free Fire World Series yang akan diadakan pada pertengahan tahun ini di Singapura.

Kompetisi ini sempat ditiadakan tahun kemarin karena pandemi Covid-19 dan digantikan oleh Free Fire Continental Series. Untuk tahun ini, hadiah kompetisi Free Dire World Series bukan main-main: 2 juta USD atau setara dengan 28 miliar rupiah!

Kompetisi Free Fire lain mungkin hadiahnya tidak terlalu spektakuler seperti itu, namun tetap tinggi. Nominalnya berkisar antara puluhan ribu hingga ratusan ribu US dollar. Tidak hanya dari segi besarnya hadiah, jumlah penonton kompetisi juga patut diperhatikan.

Di negara lain seperti Brazil misalnya, ada banyak turnamen besar yang menarik banyak minat penonton. Turnamen seperti Liga Brasileira dan Gigantes Free Fire menjadi penyumbang terbesar sehingga Free Fire bisa meraih 26 juta penonton hanya di bulan Agustus tahun kemarin.

Data-data tersebut menunjukkan kalau game yang kerap di-bully ini terbukti memiliki potensi yang besar. Artinya, para bocil FF yang kerap ditertawakan sebenarnya bisa diberdayakan untuk mengharumkan nama bangsa.

Memberdayakan Bocil FF

bocil-ff-4.jpg
Bocil FF (via Freepik)

Sampai di sini, kita telah memahami bahwa banyak anak-anak di Indonesia telah bersentuhan dengan smartphone sejak usia dini. Ketika duduk di bangku sekolah dasar, mereka sudah bisa memainkan berbagai game termasuk Free Fire.

Bermain game memang kerap mendapatkan sorotan negatif dari publik, terutama jika yang bermain adalah anak-anak yang seharusnya memfokuskan diri untuk belajar di sekolah. Hanya saja, jika diarahkan dengan baik justru hal tersebut bisa memberikan dampak positif.

Indonesia memiliki banyak tim esports yang berkualitas. Bisa saja mereka melakukan seleksi dengan langsung turun ke masyarakat untuk menemukan bakat-bakat terpendam. Sama seperti catur yang kemarin begitu heboh, pembinaan sejak usia dini menjadi begitu penting.

Edukasi ke orang tua juga menjadi penting. Mindset bahwa game hanya membuang-buang waktu dan tidak berguna harus dibuang. Sekarang, main game sudah bisa membuat kita menghasilkan uang, bahkan mungkin lebih tinggi dari pekerjaan mainstream lainnya.

Peran pemerintah untuk mendukung hal ini juga sangat diperlukan. Melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenkraf), pemerintah sudah menyadari betapa besarnya potensi yang dimiliki oleh industri game saat ini.

Apalagi, sekarang sudah ada Pengurus Besar Esports Indonesia (PBESI) yang memiliki tujuan untuk mengembangkan dan mempromosikan ekosistem esports di Indonesia agar semakin tumbuh dan meraih prestasi.

Comment
  • ReplyFebianne DwiayuAug 31, 2021 at 17:11

    Saya juga suka main Free Fire :3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Aplikasi UP Station
telah tersedia sekarang
Buka Artikel
Download Aplikasi