Kenapa Game MMORPG Sering Tutup Server? Ini 5 Alasannya!

2 months ago 0 Comments 466 views

Massively Multiplayer Online Role-Playing Game (MMORPG) adalah genre berbasis RPG yang bisa dimainkan multiplayer bersama teman-temanmu secara online.

Perbedaannya dengan RPG adalah MMORPG tidak terikat dengan alur cerita dari game tersebut, sehingga kamu bisa mengembangkan karaktermu sesuka hati. Selain itu, kamu bisa berinteraksi dengan orang asing sehingga mendapatkan kenalan baru.

Beberapa contoh game MMORPG yang terkenal adalah Ragnarok, Dragon Nest, Genshin Impact, Black Dessert, Laplace M, dan masih banyak judul lainnya.

BACA JUGA:

Di Indonesia sendiri, MMORPG sudah punya komunitasnya sendiri. Namun, banyak juga game MMORPG yang harus tutup server duluan bahkan sebelum game tersebut dikenal secara luas. Mengapa?

5 Alasan Game MMORPG Kalah Saing

Game MMORPG harus bersaing dengan game bergenre lain yang lebih populer semacam FPS, battle royale, dan lainnya. Tetapi jika dilihat seberapa lama eksis game MMORPG di dunia game, genre ini memiliki catatan yang buruk karena sering tutup server tak lama setelah game tersebut rilis.

Tidak percaya? Judul yang paling terkenal dan baru tutup server pada bulan Maret kemarin adalah game Dragon Nest Mobile. Untuk versi PC, RF Online dan Seal Online yang pernah merajai game warnet juga sudah menutup servernya di Indonesia.

Oleh karena itu, kali ini Upstation akan membeberkan 5 alasan mengapa game MMORPG selalu kalah saing dengan game bergenre lain!

1. Tidak Ada Turnamennya.

Alasan suatu game bisa menjadi besar dan dikenal oleh banyak orang adalah turnamennya. Contoh game yang besar di Indonesia karena turnamennya adalah PUBG Mobile dan Mobile Legends.

Adanya turnamen membuat para player mendapatkan update mengenai META yang bagus untuk game tersebut. Hal inilah yang tidak dimiliki oleh game MMORPG yang sangat jarang mengadakan suatu turnamen.

Memang sulit untuk mengadakan turnamen menggunakan game MMORPG. Turnamen terakhir yang diketahui adalah Ragnarok M: Eternal Love yang diadakan tahun 2019. Setelah itu, rasanya tidak pernah terdengar lagi ada turnamen berbasis MMORPG.

Sulitnya game MMORPG melakukan promosi berkedok turnamen inilah semakin membuat game-game MMORPG berebutan tutup server

2. Ukuran Game yang Terlalu Besar.

Bukan rahasia umum lagi jika game MMORPG selalu memakan RAM dan ROM yang sangat besar, apapun device yang kalian gunakan.

Hal ini wajar jika melihat betapa luasnya map yang harus dijelajahi di game MMORPG merek apapun. Grafiknya pun tak perlu ditanya lagi, dijamin akan memanjakan mata.

Tapi jangan salah, game kompetitor bergenre lain terus berbenah dengan memberikan update yang mempercantik grafis mereka, namun bisa mengurangi ukuran file dari game tersebut yang tentu akan lebih ramah kepada player dengan perangkat ‘kentang’.

Jika developer game MMORPG tidak melakukan pembaruan, bukan tidak mungkin para gamers akan semakin meninggalkan game jenis ini.

3. Bug yang Menjengkelkan

Bug adalah penyakit dari game yang sangat dibenci oleh para gamers dari berbagai kalangan. Bug akan selalu hadir di game jenis apapun, terutama jika game tersebut baru mendapatkan update.

Tetapi kasus bug di game MMORPG bisa dibilang lain cerita. Bug di game yang memiliki fitur dan mekanisme yang mendekati realistis ini sangat mengganggu dan mengurangi esensi dalam bermain game tersebut.

Parahnya lagi, developer terkesan enggan memperbaiki bug yang membuat game tersebut terlihat baru setengah jadi. Inilah yang menyebabkan game MMORPG ditinggalkan oleh pemainnya.

Sebagai contoh yang paling nyata, bug menjadi penyebab matinya game World of Dragon Nest yang baru saja tutup server Maret lalu.

4. Server yang ‘Beranak’

Kelemahan dari game MMORPG, terutama untuk yang mobile, adalah server yang terlampau banyak. Ini bukan masalah jika kamu adalah tipe player yang memang ingin mencari teman online baru.

Akan tetapi, bagaimana jika kamu adalah player yang selalu ingin bermain dengan party-mu? Inilah yang membuat gamers MMORPG jengkel, apalagi jika kamu tidak bisa pindah ke server yang sama dengan temanmu.

Developer game MMORPG harus belajar dari Ragnarok M: Eternal Love yang menggunakan sistem megaserver, sebuah sistem di mana semua player bermain di satu server saja, namun dipecah menjadi beberapa channel. Jika ingin bertemu player lain, kamu cukup pindah channel saja.

Sayangnya, Ragnarok X: Next Generation sendiri justru tidak mengadopsi sistem yang sangat bagus ini dan ikut-ikutan memecah server mereka.

5. Pay-to-Win yang Mematikan Kompetisi

Sistem Very Important Person (VIP) akan selalu hadir di game bergenre apapun. VIP biasanya disediakan untuk para player berdompet tebal mendapatkan keuntungan lebih dibandingkan player gratisan.

Sayangnya, sistem VIP di game MMORPG membuat perbedaan kasta player sultan dengan player jelata sangat kentara. Sistem VIP memang memiliki keuntungan karena bisa mengembangkan karakter mereka dengan cepat.

Sistem yang dikenal dengan nama pay-to-win inilah yang akan memaktikan kompetisi di game MMORPG. Bagaimana tidak, di level yang sama player sultan sudah memiliki kekuatan jauh di atas player yang tidak mengeluarkan uang sedikitpun.

Sistem ini juga otomatis menghapus unsur terpenting dalam sebuah game MMORPG, yaitu persaingan secara adil!

***

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Aplikasi UP Station
telah tersedia sekarang
Buka Artikel
Download Aplikasi