Kenalan dengan Gavin Fountain, Organisasi Esports yang Fokus Bantu Anak Kurang Beruntung

2 months ago 0 Comments 1,497 views

Jika ditanya ke anak kecil jaman sekarang, “mau jadi apa kamu kalau sudah besar?”, sebagian besar pasti akan menjawab pro player atau profesi lain yang berhubungan dengan dunia game. Sebesar itulah pengaruh esports di Indonesia saat ini.

Siapa yang tidak mau terlibat di scene esports? Industri ini telah membuka segudang lapangan pekerjaan baru untuk banyak orang. Potensi untuk berkarir di dunia espots juga cukup besar, meski tentu saja jalan yang ditempuh tidak akan mudah.

Esports adalah jawaban dari pertanyaan klasik, “apakah bermain game dapat memberikan dampak negatif?”. Sebab jika diperhatikan, ada banyak hal positif yang bisa dipetik dari industri bermain game yang satu ini.

Baca juga:

Sekarang mari kita sedikit berandai-andai, apakah esports bisa menjadi pelarian atau jalan keluar dari lingkup kehidupan yang ‘rusak’? Jawabannya, mungkin saja.

Perkenalkan Frans, pendiri dari Gavin Fountain asal Tasikmalaya. Lewat organisasi kecil buatannya, ia bertekat untuk merangkul anak-anak yang berasal dari lingkungan ‘kurang beruntung’ dan mengajaknya untuk terjun ke dunia esports. Lewat organisasinya, ia berharap akan lebih banyak lagi bibit-bibit baru yang mampu memajukan dunia esports di masa depan.

Kami berkesempatan untuk berbincang dengan Frans beberapa waktu lalu, mengulik lebih dalam soal apa motivasinya dalam membuat Gavin Fountain dan seperti apa tantangan yang ia hadapi sejauh ini.

Rangkul Anak Yatim dan Broken Home ke Esports

Sebagai pembuka, kami bertanya soal apa alasannya dalam membentuk Gavin Fountain.

“Dulu waktu masih muda itu aku sering lihat orang-orang yang main ke warnet itu, orang-orang yang broken home, ada yang yatim piatu, ada yang di-bully. Mereka itu berkumpul di warnet, karena ada kekosongan di dalam diri mereka. […] Kita berkumpul di sebuah warnet, kita enjoy bermain game-game kita. Ketika saya main ke kota-kota lain juga, saya melihat ketika ke warnet-warnet banyak sekali kesamaan. […] Kebanyakan (dari mereka) adalah anak broken home.”

Berangkat dari observasinya ketika itu dan melihat dunia esports yang saat ini sedang maju-majunya, ia bertekad untuk merangkul mereka agar memiliki potensi untuk bekerja di dunia esports secara profesional. Harapannya, agar mereka dapat menjadi bibit baru untuk regenerasi dunia esports di Indonesia.

Selain itu, Frans juga mendapati fakta bahwa anak-anak yang ia temui di warnet-warnet, biasanya memiliki latar belakang yang minim edukasi. Tetapi potensi mereka tidaklah semuanya buruk. Dengan latar belakang Frans sebagai pengajar kursus, ia merasa yakin untuk membina anak-anak tersebut sesuai dengan potensi yang mereka miliki.

“Karena saya juga berlatar belakang sebagai pengajar les, di sini aku melihat aku bisa padukan orang-orang yang potensi ini. Aku bisa mengembangkan dan membina. […] Potensinya misal di nyanyi, oh bisa tuh dikolaborasiin di sebuah event kita ada mungkin jadi MC. Atau punya kemampuan speech-nya bagus, kita kasih pendidikan seperti cara atur napas, pronunciation, dia bisa jadi profesional caster. Ketika dia punya potensi sedikit pun, mereka bisa kita ubah, kita bina ke arah profesional.”

Menurutnya, bahkan operator warnet tersebut bisa saja dilatih untuk menjadi operator yang berada di balik layar. Salah satunya seperti observer game.

Frans mengatakan bahwa ia ingin bergerak untuk membina mereka, ketimbang membiarkan anak-anak tersebut hidup dan berkembang tanpa membangun potensi yang terkubur dalam diri mereka.

Ia mengatakan bahwa anak-anak yang berlatar belakang broken home, yatim piatu, hingga yang hidup di jalan memiliki hidup yang terlalu berat, apalagi untuk usia mereka yang masih muda. Kondisi yang begitu keras memaksa mereka untuk dewasa sebelum waktunya.

Mulai Sejak Tahun 2019

Frans memulai Gavin Fountain dengan membuat sebuah event turnamen kolaborasi dengan salah satu universitas swasta di Tasikmalaya di tahun 2019.

Hingga saat ini, Gavin Fountain telah memilki sekitar 10 sampai 15 anggota, dengan range umur dari 16 sampai 24 tahun. Untuk saat ini, ia lebih menaruh perhatian ke anak-anak yang berada di lapangan, seperti anak-anak yang menjadikan warnet sebagai pelarian.

Dari segi kegiatan, ia dan Gavin Fountain kerap memberikan pelatihan-pelatihan kepada para anggotanya.

“Sejauh ini aku sudah coba (membuat) meeting. Di dalam meeting kita kasih pembahasan seperti bahasa Inggris, ngomong dan berdoa pakai bahasa Inggris. Agar terlatih. Karena standar mandatory untuk esports sekarang itu (bahasa) Inggris. Gimana anak-anak ini mau terjun ke esports kalau gak bisa bahasa Inggris, mungkin akan stuck pada waktunya. Jadi pintu-pintu yang seperti bahasa Inggris itu harus tau, apalagi basic esports-nya.”

Ia juga kerap mengajari detail game esports, seperti skill-skill karakter dan lain sebagainya. Dari segi event, mereka kerap mengadakan event-event di kafe, mall, sekolah, dan universitas. Untuk event di sekolah dan universitas, mereka biasanya menggelar talkshow dengan guru, dosen, hingga YouTuber.

Bicara soal tantangan, Frans mengaku cukup ‘berdarah-darah’ dalam menjalankan Gavin Fountain, apalagi saat ini sedang dalam kondisi pandemi. Menurutnya, salah satu hambatannya saat ini adalah pelajaran yang mereka berikan harus melalui sistem online.

Meski proses pengajaran masih dapat berlangsung, menurutnya memberikan pelajaran secara offline masih lebih efektif karena akan lebih berdampak ke pengembangan karakter.

“Harapan untuk Gavin, kami bertujuan untuk meregenerasi generasi selanjutya untuk esports yang lebih baik. Apabila kita bisa mengikis sisi toxic (di dunia esports), kita akan mendapatkan sebuah lingkungan yang baik juga di industrinya. Selain itu saya juga bisa melemparkan orang-orang dengan talenta dengan latar belakang yang sangat membutuhkan, seperti broken home dan yatim piatu.”

***

Frans dan Gavin Fountain adalah salah satu contoh nyata bahwa sebenarnya esports bisa membawa dampak yang sangat positif. Melalui esports, Frans berusaha untuk merangkul anak-anak dengan latar belakang kurang beruntung, untuk mengembangkan potensi dirinya dan maju lewat dunia esports.

Meski saat ini Gavin Fountain masih menjadi organisasi dengan skala yang cukup kecil, ia tetap bertekat untuk membangun visinya untuk membantu sesama. Semoga saja, semakin banyak orang baik di luar sana yang punya rasa peduli tinggi terhadap sekitar dan memanfaatkan esports sebagai wadahnya.


Bagi kalian yang mau top-up game kesayangan kalian bisa langsung kunjungi UniPin! Proses cepat dan harga murah! Subscribe channel YouTube UniPin Gaming untuk nonton konten game menarik.

Follow akun sosial media kami di:
Facebook: UP Station Indonesia
Twitter: @Upstationasia
Instagram: @upstation.asia

Yuk gabung di grup Discord kami!
Discord: UniPin Official Community

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Aplikasi UP Station
telah tersedia sekarang
Buka Artikel
Download Aplikasi