Kesehatan Mental di Dunia Esports: Tidak Seindah yang Terlihat

1 week ago 0 Comments 412 views

Berkarir di dunia esports sebagai atlet rasanya sudah menjadi idaman bagi generasi muda sekarang. Siapa yang tidak tergoda, dibayar untuk bermain game favoritnya dengan penghasilan di atas rata-rata. Belum lagi adanya kesempatan untuk bergabung dengan tim idaman dan bermain dengan idola.

Jika memiliki kemampuan yang mumpuni, bukan tidak mungkin kita bisa membela tim kita di ajang tingkat nasional bahkan internasional. Siapa tahu kita bisa seperti Xepher dan Whitemon yang mewakili Indonesia di ajang sekelas The International.

Hanya saja, banyak yang mengabaikan sisi lain dari dunia esports yang cukup menuntut dan memiliki tekanan besar. Padahal, kesehatan mental menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan oleh semua pihak.

BACA JUGA: 

Esports Tidak Seindah yang Dibayangkan

kesehatan-mental-esports-1
Tak Seindah yang Terlihat

Jika kamu perhatikan, kebanyakan atlet esports memutuskan untuk pensiun di usia yang relatif muda, di mana rata-rata memutuskan berhenti di usia 20-an. Bandingkan dengan olahraga seperti sepak bola yang pemainnya bisa bermain hingga usia 40 tahun.

Ini menunjukkan kalau bekerja di bidang esports, terutama sebagai atlet, tidak seindah yang dibayangkan. Ada beberapa faktor yang memengaruhi hal ini, seperti cedera fisik, merasa kelelahan, maupun tak tahan dengan beban mental.

Dari sisi fisik, banyak atlet yang mengalami Carpal Tunnel Syndrome dan cedera pergelangan tangan. Hal ini terjadi karena mereka harus mengulangi gerakan yang sama secara terus-menerus dalam jangka waktu yang panjang.

Dari sisi mental, tekanan dan begitu sengitnya tingkat kompetisi bisa menjadi pemicu stres bagi pemain. Jika disepelekan, masalah-masalah ini dapat memicu hal yang lebih serius seperti gangguan kecemasan dan depresi.

Oleh karena itu, adanya tim psikolog untuk menunjang kesehatan mental para atlet esports sangat diperlukan. Contohnya seperti BOOM Esports yang memiliki mental coach untuk menjaga keseimbangan mental para atletnya.

Alasan Esports Berpotensi Menyerang Kesehatan Mental

kesehatan-mental-esports-2
Dr Carolyn Rubenstein

Faktor utama yang membuat esports memiliki potensi untuk memengaruhi kesehatan mental adalah tekanan. Mereka harus selalu siap bersaing, berlatih dengan intensitas yang sangat tinggi, dan dituntut untuk berhasil memenangkan sesuatu.

Psikolog Dr Carolyn Rubenstein yang bekerja untuk tim Misfits (League of Legends) mengatakan bahwa pemain profesional mengandalkan otak untuk tampil dan berada di momen yang sangat tepat.

Menurutnya, ini menimbulkan banyak tekanan dan dapat menciptakan kecemasan yang berdampak pada fokus pemain. Padahal untuk bisa mengakses semua keterampilan dan penalaran logis pemain, emosi harus bisa dikelola di dalam dan luar permainan.

“Sebagian besar gangguan psikologis utama seperti kecemasan atau depresi berdampak pada fokus dan konsentrasi serta fungsi umum, jadi jika tidak ditangani dengan benar berdampak pada kinerja,” kata Rubenstein

Hal ini memang bisa diobati, tetapi seringnya diabaikan karena kurangnya kesadaran baik dari atletnya sendiri maupun tim. Padahal, menghadapi tekanan – apalagi menghadapi netizen yang toxic – bukan perkara yang mudah.

Contoh Kasus Kesehatan Mental di Esports

kesehatan-mental-esports-3
Justin “Plup” McGrath

Salah satu alasan mengapa kesehatan mental seolah belum menjadi concern di dunia esports adalah karena belum banyak kasus yang terlihat oleh mata. Mungkin kasus yang populer adalah kasus dari Justin “Plup” McGrath.

Menjadi favorit untuk memenangkan turnamen Smash Bros. Melee, McGrath mendapatkan serangan panik pertamanya yang membuatnya kalah di semifinal dan hanya berhasil finis di tempat ketiga.

Serangan panik ini diperkirakan terjadi karena McGrath harus berkompetisi di sebuah panggung dengan jumlah penonton yang sangat besar. Dalam Twitter-nya, ia mengakui kalau itu adalah pertama kalinya dirinya mengalami serangan panik.

kesehatan-mental-esports-4
Kim “Olleh” Joo-sung

Kim “Olleh” Joo-sung dari Team Liquid juga sempat menderita insiden terkait kesehatan mental selama Mid-Season Invitational. Olleh merasa dirinya tidak dalam kondisi mental yang benar untuk bermain, sehingga memutuskan untuk duduk di bangku cadangan.

Olleh dikritik secara online karena dianggap tidak cukup kuat secara mental untuk bermain. Meskipun ia berusaha menjelaskan setransparan mungkin di Twitter mengenai apa yang terjadi, ia mendapatkan reaksi yang negatif. Ia pun dijadikan kambing hitam ketika timnya gugur.

Beberapa contoh di atas menjadi bukti nyata bahwa kesehatan mental di esports tidak bisa diremehkan. Tidak perlu menunggu ada kasus yang lebih besar lagi untuk memberikan porsi perhatian terhadap hal ini.

Cara Menjaga Kesehatan Mental di Dunia Esports

kesehatan-mental-esports-5
Pentingnya Olahraga bagi Atlet Esports

Seperti yang sudah disinggung di atas, memiliki tim psikolog khusus sudah seharusnya menjadi sebuah kewajiban. Tidak hanya melayani atlet, para staf pun jika diperlukan bisa memanfaatkan fasilitasi ini.

Dr Atheshaan Arumuham, seorang dokter spesialis psikiatri, telah memberikan beberapa tips bermanfaat bagi para pemain esports untuk menjaga kesehatan mental mereka. Pertama adalah menjaga kualitas tidur malam sekitar 8-9 jam.

Hal ini mutlak dilakukan karena pemain esports menghabiskan waktu seharian untuk berlatih. Tidak hanya tidur malam yang cukup, istirahat di sela-sela latihan juga dibutuhkan untuk merelaksasi bagian tubuh.

Sebagai aktivitas yang mengharuskan kita duduk untuk jangka waktu yang lama, pemain esports juga disarankan untuk berolahraga fisik setidaknya 30 menit per hari. Selain bermanfaat untuk kebugaran, berolahraga juga bagus untuk meningkatkan kesehatan mental dan mengurangi ketegangan.

Kandungan gizi yang cukup untuk tubuh juga berpengaruh. Empat wajib lima sempurna bisa menjadi diet yang baik untuk atlet, dengan ditambah 6 sampai 8 gelas air putih setiap hari. Selain itu, hati-hati dengan kafein yang dapat menurunkan kadar gula darah dalam jangka waktu lama.

Penutup

Menormalkan percakapan seputar kesehatan mental dalam esports sudah selayaknya dilakukan demi ekosistem yang lebih sehat. Tingkat kompetisi yang begitu ketat jelas menimbulkan tekanan yang luar biasa bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Keberhasilan beberapa tim yang sudah memiliki tim psikolog harusnya menjadi motivasi bagi tim lain untuk segera memilikinya. Adanya pengecekan kondisi mental sebelum dan sesudah pertandingan juga bisa menjadi pembeda yang signifikan.

Jadi untuk kamu yang tertarik untuk terjun ke dunia esports karena kelihatan “enak”, apakah sudah siap untuk menghadapi kerasnya tekanan mental yang mengancam kesehatan di dunia esports?


Bagi kalian yang mau top-up game kesayangan kalian bisa langsung kunjungi UniPin! Proses cepat dan harga murah! Subscribe channel YouTube UniPin Gaming untuk nonton konten game menarik.

Follow akun sosial media kami di:

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Aplikasi UP Station
telah tersedia sekarang
Buka Artikel
Download Aplikasi