[Opini] Kontroversi Taunting dalam Turnamen Esports, Wajarkah Demikian?

8 months ago 0 Comments

Pertandingan AURA Fire yang hampir mengalahkan RRQ Hoshi pada MPL Season 9 pekan lalu ternyata mengundang kontroversi yang cukup membekas untuk para penggemar skena esports Indonesia. Hal ini terkait taunting verbal yang dilakukan oleh AURA Godiva dan kawan-kawan kepada skuadron RRQ Hoshi.

Kultur taunting tersebut dinilai tidak sehat oleh sebagian penggemar, karena itu dianggap sebagai disrespect dan merendahkan lawan. Meski demikian sebagian masih berpendapat bahwa taunting sah-sah saja dilakukan selama masih wajar, karena itu bagian dari kompetisi.

Perdebatan ini masih berjalan sampai dengan hari ini, terkait kewajaran dari taunting. Apakah pro player yang bertanding di turnamen tidak boleh melakukan taunting, guna menjunjung tinggi respect pada lawan?

BACA JUGA:

Sebelum kita membahas lebih jauh, kita kupas dulu yuk apa itu definisi dari taunting. Taunting, singkatnya adalah tindakan provokasi pada lawan yang gunanya untuk menjatuhkan mental lawan. Tentunya, tindakan taunting tidak selamanya bersifat verbal, tetapi terkadang juga bisa diekspresikan dalam bentuk aksi nyata.

Pada turnamen olahraga non-esports, istilah taunting pun cukup umum dikenal, tetapi di beberapa cabang olahraga, taunting sama sekali tidak diperkenankan karena dianggap bukan tindakan yang sportif untuk dilakukan.

Dalam beberapa liga olahraga fisik, seperti Soccer (sepak bola), American Football, Basketball, dan lain-lain, akan ada hukuman khusus yang dikenakan bagi para pemain yang melakukan tindakan taunting.

Namun, taunting masih diperkenakan di beberapa liga olahraga yang cukup liberal, seperti misalnya UFC, atau jika mau ambil contoh yang lebih ekstrim lagi, olahraga jalanan.

Maka bisa ditarik kesimpulan, wajar atau tidaknya taunting itu tergantung pada peraturan. Apakah peraturan memperbolehkan tindakan provokatif tersebut? Jika iya, maka bisa dibilang itu wajar.

Taunting di Esports

AURA

Dalam skena esports, taunting bisa dibilang masih tergolong tindakan yang bukan tergolong baru. Salah satunya yang paling legendaris dulu ada pada game DOTA 2, yakni saat Dendi dan Puppey yang keduanya berasal dari NaVi kebetulan ditempatkan di dua tim berbeda di All-Star International.

Sebagai jagoan Pudge, Dendi secara sempurna berhasil melakukan hook pada Puppey, mengakibatkan Puppey tewas seketika. Usai keberhasilannya, Dendi langsung melakukan pause pada game dan berjoget Gangnam Style tepat di depan timnya Puppey.

Dan masih banyak lagi aksi yang tergolong taunting di skena kompetitif game esports lain.

Berarti, taunting itu wajar dong?

Tergantung. Bisa jadi wajar, kalau peraturan tidak menuliskan secara gamblang terkait pelanggaran pada aksi taunting.

Kita ambil contoh dalam peraturan ESL Play dari turnamen CSGO Major. Setidaknya, kata “taunting” tidak pernah disebutkan di dalam peraturan. Namun, mereka menulis jelas bahwa insult–yang merupakan bagian dari taunting–itu dilarang keras untuk dilakukan.

Toh, aksi taunting itu tidak selamanya soal insult, tetapi juga soal aksi nyata, yang pada intinya yang nyentrik, provokatif, dan dapat menjatuhkan mental lawan.

Namun, tiap turnamen game mempunyai peraturan yang tidak bisa disamakan. Baik di antara The International-nya DOTA 2, ESL Major-nya CSGO, ataupun bahkan MPL-nya Mobile Legends: Bang Bang.

Jadi, ya.. kembali lagi. Wajar atau tidak, itu semua tergantung ke dalam peraturannya.

Sedikit note tambahan, taunting tidak sama dengan disrespect. Kembali lagi, tujuan taunting adalah menjatuhkan mental lawan dengan tindakan provokatif.

Apa yang dilakukan AE Nocturn pada EVOS REKT pada beberapa hari lalu jelas bukan tindakan taunting. Itu secara gamblang adalah tindakan penghinaan, tanpa dasar.

Secara jelas, AE Nocturn hanya berada di posisi audience, bukan sebagai player langsung. Kemudian, ia hanya melontarkan kata-kata tak pantas pada REKT, tanpa tujuan yang jelas.

***

Para pro player itu merupakan tokoh yang profesional dan berdedikasi untuk bekerja di segmen esports. Apa pun yang mereka lakukan, semua itu adalah atas dasar dedikasinya pada kerjanya di segmen esports. Termasuk pada aksi taunting-nya, itu hanyalah bagian dari pekerjaan.

Di luar skena kompetisi, para pro player yang saling melakukan taunting satu dengan yang lain kebanyakan pada akhirnya nongkrong bareng dan duduk di satu tongkrongan.

Nah, kalau mereka aja duduk di satu tongkrongan, kenapa kamu malah ribut satu dengan yang lain?


Dapatkan berita gaming dan informasi menarik lainnya seputar dunia game, esports, film, anime, dan lainnya hanya di UP Station.

Bagi kalian yang mau top-up game kesayangan kalian bisa langsung kunjungi UniPin! Proses cepat dan harga murah!

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru dan berita gaming lainnya di akun sosial media kami:
Facebook: UP Station Indonesia
YouTube: Upstation Media
Twitter: @Upstationmedia
Instagram: @upstation.media

Yuk gabung di grup Discord kami!
Discord: UniPin Official Community

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


Aplikasi UP Station
telah tersedia sekarang
Buka Artikel
Download Aplikasi