[OPINI] Realita Atlet Esports dan Alasan Mereka Pensiun Dini

1 month ago 0 Comments

Esports adalah salah satu cabang olah raga yang sedang sangat berkembang saat ini. Dengan meningkatnya popularitas tersebut, tak heran bila banyak orang yang ingin mengikuti jejak para atlet esports seperti Lemon, Donkey, Luminaire, LJ, dan lainnya.

Pekerjaan ini memang terlihat sangat menggiurkan. Bayangkan, dulu tidak ada orang yang percaya kalau bermain game bisa menghasilkan uang. Sekarang? Banyak atlet-atlet esports yang memiliki penghasilan tinggi.

Akan tetapi, apakah benar realita esports seindah itu? Jika iya, mengapa banyak atlet esports yang memutuskan untuk pensiun dini

BACA JUGA:

Kebanyakan atlet esports professional saat ini, baik yang bermain di PC, mobile, ataupun konsol, biasanya akan tergabung dalam suatu tim. Sama seperti tim olahraga lain seperti sepak bola atau basket, hari-hari mereka akan dihabiskan untuk banyak berlatih.

Sebagai contoh, seorang pemain game League of Legends asal Denmark, Lucas Tao Kilmer Larsen alias Santorin, mengatakan bahwa dalam sehari dia bisa bermain selama 14 jam dan hanya dapat bertemu teman-temannya satu kali dalam setahun.

atlet esports pensiun

Donkey, seorang mantan pemain Mobile Legends ternama dari Indonesia, menyatakan bahwa ketika ia masih tergabung dalam tim EVOS, mereka rata-rata menghabiskan waktu 13 jam per hari untuk berlatih.

Kami berlatih mulai jam 2 (siang), mulai dengan melakukan review hingga jam 3 atau 4. Setelah itu scrim hingga jam 6 atau 7 sebelum istirahat makan sampai jam 8. Setelah itu, kami melakukan review lagi hingga jam 9 dan scrim lagi hingga jam 11. Setelah itu, kami bermain rank hingga jam 2 sampai 3 (malam),” ucap Donkey

Jam-jam kerja seperti ini tentunya sangat berat dan tidak memberikan banyak waktu bagi seorang pemain untuk dapat bersantai. Perlu diingat pula bahwa tanggung jawab mereka tidaklah hanya berlatih. Masih ada pula jadwal wawancara, photo shoot materi promosi, dan lain-lainnya

Akumulasi dari beberapa hal lain seperti faktor kesehatan fisik dan mental juga mengancam para pemain. Jumlah bermain game yang sangat banyak sangat berpotensi menimbulkan penyakit.

atlet esports pensiun

Selain itu, dinamika dunia game juga terkenal cepat. Ada banyak game yang popularitasnya menurun drastis sehingga pemain harus bisa beradaptasi dengan game baru yang lebih populer.

Semua hal tersebut berkonstribusi kepada pendeknya jenjang karir seorang pro player. Rata-rata, seorang pro player esports akan pensiun di usia yang masih terbilang sangat muda, sekitar pertengahan 20.

Jadi, buat apa seseorang harus berusaha untuk jadi pemain profesional esports?

Shanghai releases guidelines over eSports athlete registration and management - CGTN

Bagi kebanyakan dari mereka, ada beberapa hal yang mendorong mereka untuk terus berjuang. Contohnya dalam hal pendapatan. Para pemain top bisa mendapatkan penghasilan yang cukup memadai untuk menopang hidup mereka.

Hal ini bukan omong kosong. Penghasilan yang dapat diperoleh mencapai puluhan juta hingga miliaran rupiah. Memang hanya sedikit atlet yang dapat mencapai level ini, tapi mimpi itu cukup menjadi motivasi yang sangat kuat bagi banyak orang. 

Bahkan, seorang pensiunan dari dunia esports pun dapat meraup keuntungan berlimpah. Kita ambil contoh dari seorang shroud yang pernah membela tim Cloud9 divisi Counter Strike Global Offensive.

Usai menjadi alumni dari Cloud9, shroud memutuskan untuk beralih menjadi livestreamer, memanfaatkan popularitas yang ia tuai hasil penampilannya yang ciamik di Cloud9. Hasilnya? Sangatlah baik. 

atlet esports pensiun

Kita juga bisa ambil dari kasus yang terjadi di Indonesia, salah satunya yang paling ternama adalah Jess No Limit yang beralih profesi menjadi seorang YouTuber. 

Saweran dari para penggemar datang berbondong-bondong pada diri mereka. Seorang shroud dan Jess No Limit tidak perlu memikirkan nasib hidupnya ke depan, karena seakan secara finansial mereka sudah sangatlah merdeka dan terjamin. Hasil kerja keras bergulat di dunia esports.

Masih banyak lain contoh pro player, baik domestik maupun internasional yang mempunyai kisah yang serupa dengan shroud. Hampir semua dari mereka memutuskan beralih menjadi livestreamer dan sukses besar. 

Selain dari itu, kesempatan untuk dapat bepergian ke tempat-tempat lain di dunia untuk berkompetisi dan ketenaran yang datang juga menjadi hal yang menarik untuk orang yang ingin mengambil jenjang karir ini.

Basic Introduction] How to start as an Esports Coach - Inven Global

Perlu diingat pula bahwa meskipun karir mereka biasanya tidak berjalan lama, bagi para atlet yang mampu berubah masih ada pilihan pekerjaan lain di dunia esports yang bisa mereka dapatkan.

Pengalaman dan pengetahuan mereka dapat digunakan dalam karir sebagai caster, streamer, atau analis. Bagi mereka yang mempunyai kemampuan organisasi dan leadership, posisi sebagai tim manajer juga terbuka.

Sama seperti semua pekerjaan, terjun di bidang esports juga memiliki kelebihan dan kekurangannya. Walau terdengar enak karena main game dibayar, mereka juga harus mengorbankan banyak hal agar bisa meraih kesuksesan. Semua tergantung dari diri sendiri, apakah mau menekuninya atau tidak.

Setelah mengetahui realita esports di atas, apakah kamu tertarik untuk berkarir di dunia esports dan menjadi seorang pro player walaupun masa aktifnya tidak terlalu panjang? Tulis pendapatmu di kolom komentar, ya!


Dapatkan berita gaming dan informasi menarik lainnya seputar dunia game, esports, film, anime, dan lainnya hanya di UP Station. Bagi kalian yang mau top-up game kesayangan kalian bisa langsung kunjungi UniPin! Proses cepat dan harga murah! Subscribe channel YouTube UniPin Gaming untuk nonton konten game menarik.

Follow akun sosial media kami di:

Facebook: UP Station Indonesia

YouTube: UP Station Media

Twitter: @upstationmedia

Instagram: @upstation.media

Discord: UniPin Official Community

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


Aplikasi UP Station
telah tersedia sekarang
Buka Artikel
Download Aplikasi