[Review] Black Widow – Salam Perpisahan Natasha Romanoff untuk Fans MCU

2 months ago 0 Comments 97 views

Marvel telah sah membuka jagat MCU phase 4 lewat serial WandaVision di Disney+ beberapa waktu lalu. Sedangkan untuk versi film layar lebar, Black Widow menjadi yang pertama.

Menariknya, Black Widow tidak hanya menjadi film pertama yang hadir di phase 4, tapi juga sekaligus menjadi salam perjumpaan terakhir kita dengan karakter Natasha Romanoff yang diperankan oleh Scarlett Johansson.

Lantas pertanyaannya, apakah film Black Widow menjadi penutup sang karakter yang sangat pas? Apakah film ini pantas mendapatkan hype yang begitu besar dari fans Marvel (apalagi setelah mendapat penundaan tayang berkali-kali karena Covid-19)?

Simak ulasan kami mengenai Black Widow berikut ini! Tapi sebelum itu, mari kita bahas sinopsisnya terlebih dahulu.

Sinopsis

Black-Widow-1

Film Black Widow mengambil latar waktu di paska film Captain America: Civil War dan tepat sebelum Avengers: Infinity War. Natasha yang menjadi buronan menteri luar negeri Amerika, Thaddeus Ross, usai melanggar Sokovia Accords, kini harus melarikan diri ke Norwegia.

Di Budapest, ia bertemu dengan saudaranya yaitu Yelena Belova, dan mengetahui fakta bahwa agen Black Widow yang aktif saat ini telah dikontrol pikirannya oleh Red Room, sebuah fasilitas rahasia milik Soviet yang melatih wanita muda menjadi seorang pembunuh handal, sekaligus menjadi tempat pelatihan Natasha semasa kecil.

Mau tidak mau, Natasha harus kembali berurusan dengan masa lalunya, sambil meminta bantuan keluarga kecil miliknya yang telah pecah sejak dulu.

Perkenalkan keluarga Natasha untuk kali pertama

60d2ed05b088a
Red Guardian, super soldier pertama milik Soviet sekaligus ayah angkat dari dua mantan agen Black Widow ini.

Salah satu daya tarik utama di film ini, adalah kita diperkenalkan untuk kali pertama dengan kehidupan pribadi Natasha. Salah satunya mengenai keluarga.

Ia datang dari keluarga yang semuanya merupakan agen rahasia Soviet. Dengan kata lain, meski disebut “keluarga”, namun para anggotanya sama sekali tidak memilki ikatan darah.

Sang ayah adalah Alexei Shostakov, seorang agen mata-mata Soviet sekaligus menjadi satu-satunya super soldier asal negara tersebut. Ia juga memiliki alter ego bernama Red Guardian. Sang ibu adalah Melina Vostokoff, seorang agen mata-mata Soviet yang juga dilatih di fasilitas rahasia Red Room di masa lalu.

Sedangkan sang saudara, Yelena Belova, adalah seorang agen Black Widow aktif yang kini berusaha membelot setelah berhasil lepas dari pengendalian pikiran Red Room.

Dahulu, mereka keluarga yang cukup harmonis ketika masih menjadi mata-mata. Akan tetapi, ketika identitas Alexei dan Melina terbongkar, mereka mau tidak mau harus kabur ke Cuba. Di sana, Yelena dan Natasha dipaksa untuk mengikuti program Black Widow di Red Room, dan menjadi pembunuh handal seperti yang kita kenal saat ini.

Kini, keluarga mereka telah terpecah belah. Alexei yang membekam di penjara, Melina yang berusaha hidup damai di tempat terpencil, Yelena yang menjadi agen Black Widow, dan Natasha yang “banting setir” sebagai anggota Avengers.

family
Meski sudah pecah sejak dulu, tapi tak dapat dipungkiri kalau mereka memang masih punya ikatan keluarga. Harta yang paling berharga, adalah keluarga, kalau kata Dom.

Meski begitu, ketika mereka berempat berkumpul sekali lagi di dalam film, ada ikatan kekeluargaan yang menurut kami masih terasa. Rasa hangat yang tepancar dari mereka berempat meski dirundung rasa benci (terutama dari Natasha).

Film ini memberikan kita kesempatan untuk melihat lebih dekat keluarga asli (meski semuanya mata-mata) milik Natasha, yang memang jauh dari kata sempurna, tapi tetap kompak apapun kondisinya.

Konflik dengan Red Room yang terasa biasa saja, antagonis yang forgettable

black-widow-red-room-academy
Fasilitas Red Room

Konflik utama yang terjadi di film ini adalah dengan Red Room, fasilitas rahasia Soviet yang masih dikepalai oleh Dreykof, yang membentuk Natasha menjadi agen mata-mata handal yang kita kenal saat ini. Ia harus kembali berurusan dengan fasilitas tersebut, setelah mengetahui bahwa sebagai besar agen Black Widow yang aktif saat ini, telah dikendalikan pikirannya oleh Dreykof.

Beberapa mantan agen Black Widow diceritakan berhasil membawa kabur obat penawar berbentuk gas merah, yang tersimpan dalam botol kecil. Untuk mengembalikan obat penawar tersebut, Dreykof menugaskan anak buah barunya bernama Taskmaster, yang memiliki kemampuan untuk menduplikasi gaya bertarung orang lain.

Di film ini, ia diketahui telah menduplikasi gaya bertarung dari beberapa anggota Avengers seperti Hawkeye hingga Captain America. Itulah sebabnya banyak yang berspekulasi bahwa orang dibalik topeng Taskmaster sebenarnya adalah Hawkeye (padahal bukan).

Sadar akan bahaya yang dapat diciptakan oleh Dreykof, Natasha pun terpaksa mengumpulkan kembali keluarga lamanya, membebaskan ayahnya dari penjara dan berkumpul di kediaman ibunya. Semua ia lakukan dengan satu tujuan yang jelas: menghentikan operasi Red Room untuk selamanya.

black-widow_169
Tidak seperti yang diharapkan, Taskmaster punya peran yang kurang ngena di film ini.

Bicara soal musuh antagonis utama, kita semua jelas mengharapkan sosok villain yang terasa “berkelas”. Sayangnya, menurut kami Taskmaster tidak lebih dari sekedar antagonis yang kurang terasa kuat dari sisi karakter. Ia sama sekali tidak memiliki motivasi sebab hanya dikendalikan oleh Dreykof.

Di sini, Dreykof jelas menjadi antagonis utama, dengan ambisi yang kurang terasa kuat. Ia hanya sekedar menjalankan tugas yang diberikan oleh atasannya ketika ia ditempatkan sebagai pimpinan Red Room. Tidak lebih dan tidak kurang.

Terus terang, konflik yang diusung Marvel untuk film ini terasa, biasa saja. Jujur saja, kami mengharapkan konflik yang lebih ngena dan berkesan untuk film solo pertama Black Widow ini. Apalagi mengingat ini adalah perjumpaan terakhir kita dengan sosok Natasha Romanoff di MCU.

Jika diibaratkan dalam video game, film Black Widow ini terasa seperti cerita game tambahan yang kamu beli lewat DLC. Meski kualitasnya bagus, tapi tidak terasa terlalu penting, namun cukup untuk sekedar menjadi pelengkap.

Kesimpulan

Meski begitu, apakah film Black Widow gagal memberikan penampilan mengesankan Natasha untuk terakhir kalinya? Tidak juga. Di samping konflik yang menurut kami biasa saja, film ini sukses memperlihatkan potensi maksimal Natasha.

Mulai dari kemampuannya dalam bertarung yang super handal, hingga manipulasi pikiran yang pernah ia lakukan ke Loki di film Avengers pertama. Aksi pertarungan yang tersaji di film ini juga cukup asyik secara keseluruhan.

Film Black Widow tentu saja tidak bisa dikatakan jelek. Ia memiliki kualitas yang bagus, sesuai dengan “standar” film MCU lainnya, tapi tidak terasa memorable. Jika dibandingkan dengan film MCU lainnya yang tetap menarik untuk disaksikan berkali-kali, Black Widow rasanya cukup untuk dinikmati sekali saja.

Akan tetapi, film ini tetap terasa cukup untuk memberikan salam perpisahan terakhir untuk Natasha Romanoff. Tentu saja, film ini tetap wajib kalian simak jika memang mengaku sebagai fans berat Marvel. Oh, karena kita bicara soal film Marvel, jangan lewatkan post-credit scene, sebab ada adegan cukup penting di sana!

Rating: 7/10


Bagi kalian yang mau top-up game kesayangan kalian bisa langsung kunjungi UniPin! Proses cepat dan harga murah! Subscribe channel YouTube UniPin Gaming untuk nonton konten game menarik.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Aplikasi UP Station
telah tersedia sekarang
Buka Artikel
Download Aplikasi