[Review] Film Gundala – Pembuka Jagat Bumilangit yang Kurang Nendang!

4 months ago 0 Comments 1,929 views

[Peringatan: artikel ini mengandung spoiler!]

Jagat Sinema Bumilangit seakan menjadi gerbang jendela bagi sederet superhero Indonesia yang bakal diperkenalkan ke generasi muda lewat layar lebar. Ia menjadi pilar kebangkitan superhero Indonesia yang saat ini memang sedang naik-naiknya. Film Gundala pun diperkenalkan sebagai pembuka dari cinematic universe yang berisi ragam superhero asli Indonesia yang akan ditampilkan nanti.

Lantas pertanyaanya, apakah film Gundala karya Joko Anwar ini menjadi awal yang baik untuk membuka Jagat Bumilangit? Kenapa kami menggunakan kata ‘kurang nendang’ di judul artikel ini? Apakah ia pantas untuk disaksikan? Simak ulasan kami berikut ini.

Plot

Official Trailer GUNDALA (2019) – In theatres August 29, 2019 1-31 screenshot

Film Gundala berfokus ke sang karakter utama yakni Sancaka (Abimana Aryasatya). Ia memiliki hidup yang terbilang tak mudah sejak kecil, dimana Sancaka telah kehilangan kedua orang tuannya dan harus bertahan hidup sendiri di tengah kerasnya kehidupan jalanan ibu kota. Untungnya, ia berhasil bertahan berkat pertemuannya dengan Awang, yang kemudian mengajarinnya untuk belajar bela diri. Sejak saat itu, ia menanamkan prinsip untuk tidak mencampuri urusan orang lain jika ingin bertahan hidup.

Beranjak dewasa, Sancaka masih menganut prinsip yang sama seperti yang dianut sejak kecil. Namun situasi kota yang semakin memburuk berkat kekuasaan Pengkor (Bront Palarae), memaksa Sancaka untuk mengenyampingkan egonya dan bertindak untuk membantu orang lain. Sadar akan kekuatan unik yang ia dapat ketika tersambar petir, Sancaka lantas menggunakannya untuk merubuhkan kekuasaan Pengkor dan siapa saja yang membuat ketidakadilan.

Kisah masa lalu yang tragis, tapi kurang dimaksimalkan

GUNDALA (2019) – Official Video Teaser 0-1 screenshot

Jika ada satu hal yang patut diapresiasi dari film Gundala, adalah akting dari Sancaka kecil yang diperankan oleh Muzakki Ramdhan. Ia berhasil membawa karakter Sancaka kecil yang cukup sengsara kehidupannya lewat akting yang sangat baik. Kisah ketika ayahnya terbunuh demi membela rekan pabriknya, lalu ditinggal oleh sang Ibu dengan alasan bekerja namun tak kunjung kembali, menggambarkan betapa hancurnya masa lalu Sancaka. Jujur saja, beberapa adegan seperti saat Sancaka kecil kelaparan dan rela mengais makanan di tanah sukses membuat hati kami terenyuh.

Hanya saja, pertemuannya dengan sosok Awang pasca Sancaka meninggalkan rumah menurut kami terasa begitu cepat dan kurang memorable. Hal yang membuat kurang masuk akal di benak kami adalah Awang yang meskipun masih berusia cukup muda, namun telah mahir meguasai ilmu pencak silat dan tidak ada penjelasan mengenai hal itu.

Kisah Sancaka kecil yang cukup kuat dan tragis, sayangnya kurang begitu dimaksimalkan ketika alur beralih saat menceritakan Sancaka dewasa. Meskipun punya masa lalu yang cukup pedih, tapi nampaknya kurang terhubung dengan motivasi Sancaka dalam memberantas kejahatan. Ya, memang Sancaka beberapa kali diperlihatkan trauma dengan kejadian masa lalu saat ditinggal kedua orang tuanya. Hanya saja, hal tersebut seakan tidak dihubungkan dengan motivasi Sancaka dalam memberantas ketidakadilan. Gampangnya, motivasi Sancaka untuk membela kaum tertindas terasa kurang begitu ngena di film ini.

Akting yang baik serta cerita yang dibuat serealistis mungkin, patut diacungi jempol

Official Trailer GUNDALA (2019) – In theatres August 29, 2019 0-50 screenshot

Secara keseluruhan, Gundala menjadi film pembuka yang cukup baik untuk mengenalkan Jagat Sinema Bumilangit. Hanya saja, ada beberapa catatan yang sebenarnya bisa membuat film ini menjadi jauh lebih maksimal. Akting Abimana sebagai Sancaka memang patut diacungi jempol. Ia berhasil menggambarkan sosok Sancaka yang masih trauma akan masa lalu, namun berusaha untuk tetap membela kaum lemah. Beberapa karakter pendamping seperti Wulan yang diperankan oleh Tara Basro, hingga Ridwan yang diperankan oleh Lukman Sardi juga menjadi pelengkap cerita yang kami rasa pas.

Official Trailer GUNDALA (2019) – In theatres August 29, 2019 0-56 screenshot

Dari sisi villain sendiri, Pengkor yang diperankan oleh Bront Palarae juga tampil cukup baik meskipun character development-nya masih terasa kurang. Salah satu faktor yang menyebabkan hal ini terjadi adalah terlalu banyak karakter yang diperkenalkan, sehingga screen time dari si villain jadi berkurang. Meskipun Pengkor menjadi antagonis utama di film ini, namun entah kenapa kami lebih suka dari penampilan sang pendamping yakni Gazul yang diperankan oleh Ario Bayu. Sosoknya yang tenang serta gaya bicara yang tegas namun santai seakan menggambarkan bahwa ia memiliki pengaruh dan power yang lebih besar dibanding Pengkor.

Ya, akan aneh rasanya jika membuat film superhero yang benar-benar terpaku pada cerita komik. Oleh karena itu, proses adaptasi cerita film Gundala yang dibuat se-relate mungkin patut diacungi jempol. Pokok permasalahan yang terjadi di film ini cukup ngena dengan dunia nyata. Seperti bangku wakil rakyat yang diisi oleh orang yang mementingkan kepentingannya sendiri (dalam kasus ini Pengkor misalnya).

CGI yang cukup halus dan koreografi yang jadi kelemahan

GUNDALA (2019) – Official Video Teaser 0-56 screenshot

Selain dari sisi cerita dan character development, hal lain yang terasa cukup penting mengingat ini adalah film aksi superhero, adalah dari segi CGI dan koreografi saat bertarung. CGI yang ditampilkan di film ini untungnya tak semenyeramkan yang dibayangkan. Mereka terbilang berhasil untuk menghadirkan CGI yang halus namun tak berlebihan, meskipun tetap saja ada beberapa bagian yang bisa lebih bagus lagi. Lantas, bagaimana dengan adegan bertarung di film ini?

Sayangnya, kami harus mengatakan kalau koreografi yang ditampilkan saat adegan bertarung jadi salah satu aspek terlemah di film Gundala. Jika kamu membayangkan baku hantam keren ala film The Night Comes for Us, maka kamu harus siap-siap kecewa. Adegan bertarung yang ditawarkan terasa kurang matang dan kurang greget.

Musuh yang bertarung dengan Gundala sudah bersiap untuk menangkis serangan sebelum diserang, hingga pukulan yang tidak tepat sasaran namun musuh sudah terbanting lebih dulu. Aksi bertarung yang terkesan PG-13 banget, mengingatkan kami akan adegan bertarung serial Power Rangers meskipun tentu saja tidak seburuk itu. Namun, beda halnya ketika salah satu villain yakni Swara Batin yang diperankan oleh Cecep Arif Rahman bertarung, yang terlihat jauh lebih natural ketimbang adegan bertarung lainnya.

Baca juga: Trailer Final Film Joker Perlihatkan Tawa Joker Yang Bikin Merinding

Kesimpulan

2019_07_21_76645_1563646358._large

Dengan segala kelebihan dan kekurangan yang telah kami sebutkan, lantas apakah membuat film Gundala layak untuk disaksikan? Jawaban kami adalah, ya, sangat pantas. Terlepas dari segala kekurangan yang dimiliki sehingga membuat film ini terasa kurang nendang, Gundala terbilang cukup berhasil membuka Jagat Sinema Bumilangit. Terlebih lagi, film besutan Joko Anwar ini seakan berhasil membuat standar baru untuk film superhero Indonesia. Meskipun beberapa aspek masih bisa dimaksimalkan, namun aspek komedi yang tersemat dengan halus dan mudah dipahami sukses menjadi bumbu pemanis yang membuat film ini semakin asik untuk disimak.

Kisahnya yang menarik untuk disimak serta kemunculan beberapa cameo dan easter egg yang tak terduga, sukses membuat penonton penasaran dengan apa yang bakal mereka tawarkan di film selanjutnya. Film Gundala juga menyematkan 1 post-credit scene, jadi jangan beranjak dari tempat duduk bioskop ketika film usai.

Rating: 7/10


Jangan lupa untuk download aplikasi UP Station di Google Play dan App Store. Follow akun sosial media kami di:
FacebookUP Station Indonesia
Instagram@upstation.asia

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Aplikasi UP Station
telah tersedia sekarang
Buka Artikel
Download Aplikasi