[Review] No Time to Die: Film James Bond yang Paling Personal dan Emosional

9 months ago 0 Comments

Daniel Craig akhirnya sah mengucapkan salam perpisahan dengan karakter James Bond yang telah ia perankan selama 15 tahun lewat film No Time to Die. Film tersebut baru saja rilis perdana di Indonesia beberapa waktu lalu, dan sudah bisa kamu saksikan di bioskop terdekat.

Film tersebut menutup perjalanan panjang Craig sebagai agen rahasia MI6 berkode 007, setelah sebelumnya hadir di film Casino Royale, Quantum of Solace, Skyfall, dan Spectre.

Baca juga:

Lantas pertanyaannya, apakah No Time to Die mampu menjadi penutup yang pantas untuk James Bond versi ketujuh ini? Bagaimana kualitasnya jika dibandingkan dengan empat film pendahulunya? Semua akan kami bahas di artikel ini. Tapi seperti biasa, mari kita masuk ke bagian sinopsis.

Sinopsis

B25_32738_RC

Usai berjibaku melawan organisasi teroris internasional Spectre di film sebelumnya, James Bond (Daniel Craig) kini menjalani hidup damai di masa pensiunnya bersama dengan sang kekasih, Madeleine Swann (Lea Seydoux). Akan tetapi, hidupnya kembali terusik setelah anggota Spectre yang tersisa, berhasil menemukan lokasi tempat tinggal Bond dan berusaha membunuhnya.

Lima tahun kemudian, seorang ilmuwan jenius bernama Valdo Obruchev (David Dencik), yang mengembangkan mesin pembunuh berteknologi nano untuk MI6, berhasil diculik oleh pihak lain. Sadar akan masalah besar yang mungkin terjadi, Bond terpaksa kembali beraksi, meski tak lagi menyandang kode 007.

Perjalanan Bond semakin rumit, setelah mengetahui ada pihak selain Spectre, yang mampu memberikan ancaman besar untuk dunia, dan memiliki hubungan masa lalu dengan Madeleine.

Film Bond yang Paling Personal dan Emosional

maxresdefault (24)

Sebagai film terakhir James Bond di era ini, Cary Joji Fukunaga yang menjadi sutradara sekaligus penulis naskah, meramu No Time to Die sebagai film yang paling terasa personal sejauh ini.

Fokus utama yang harus diselesaikan Bond kali ini tidak hanya menyorot seputar terorisme, namun juga kehidupan pribadinya. Kita tahu, bahwa Bond adalah seorang playboy yang mampu menggoda dan menarik hati wanita manapun. Namun, film ini memperlihatkan hal yang cukup langka: Bond yang jatuh cinta.

Setelah patah hati usai kematian Vesper di Casino Royale, ia berhasil menemukan cinta sejatinya: Medelaine Swann, yang menjadi salah satu fokus utama di No Time to Die.

Madeleine bukan datang dari keluarga normal. Ayahnya adalah Mr. White, seorang pemimpin organisasi kriminal rahasia bernama Quantum, sekaligus anggota level tinggi dari organisasi Spectre.

Di film ini, kita diperlihatkan ke masa lalu tragis Madeleine, ketika Lyutsifer Safin (Rami Malek) mendatangi kediamannya saat masih kecil. Ia datang dengan satu tujuan: membalaskan dendam kepada Mr. White, yang telah membunuh seluruh keluarganya di masa lalu.

Karena tidak mendapati Mr. White di kediamannya, sang istrilah yang harus menjadi korban. Akan tetapi, ia memutuskan untuk mengampuni nyawa Madeleine pada saat itu.

Di sisi lain, MI6 yang kini berada di bawah pimpinan M alias Mallory, diam-diam mempekerjakan Valdo Obruchev, seorang ilmuwan hebat yang menciptakan teknologi nanobots bernama Heracles. Senjata yang tak terlihat tersebut dapat membunuh target yang sangat spesifik. Ia dapat membantai orang dari organisasi, garis keturunan, hingga ras tertentu.

Masalahnya, Safin berhasil menculik sang ilmuwan, tentu saja untuk kepentingan agenda lain. Salah satunya, adalah membunuh semua anggota Spectre yang tersisa, termasuk Blofeld (Christoph Waltz) yang ditangkap Bond di film sebelumnya, sebab mereka adalah dalang di balik kematian keluarganya.

Aksi balas dendam Safin tidak berhenti sampai di sana. Ia memutuskan untuk menangkap Bond, Madeleine, dan anaknya Mathilde. Inilah yang membuat No Time to Die menjadi sangat personal untuk Bond. Sebab kini ia tidak hanya berurusan dengan teroris, namun melibatkan cinta sejatinya.

Agen Wanita Baru yang Fresh, Namun Villain yang Generik

l-intro-1599750070

Mari kita bicara soal karakter lain. Jika kamu menyaksikan beberapa trailer film ini, maka pasti kamu akan sadar bahwa No Time to Die memperkenalkan agen 00 baru. Ia adalah Nomi, agen MI6 yang menyandang kode 007 selama dua tahun usai Bond pensiun.

Kehadiran Nomi menurut kami mampu memberikan warna baru dan lapisan tambahan untuk film James Bond yang satu ini. Ia diperlihatkan sebagai sosok agen mata-mata yang lihai, namun di sisi lain dilumuri rasa kurang yakin terhadap tiga angka “keramat” yang ia emban saat ini.

B25_36645_RC2

Selain itu, salah satu karakter yang kami harap punya peran lebih besar, adalah Paloma yang diperankan oleh Ana de Armas. Meski porsinya cukup sedikit, namun penampilan agen CIA asal Kuba ini sukses menjadi show stealer. Ia digambarkan sebagai agen yang mudah nervous, ceria, dan agak ceroboh. Namun ketika sedang beraksi, ia mampu menggebuk lawannya tanpa masalah.

Kita tahu, bahwa setelah ini, franchise James Bond akan di-reboot dengan aktor dan cerita yang semuanya baru. Akan tetapi, jika pihak studio berminat membuat sebuah film spin-off sebelum benar-benar beranjak dari Bond era ini, kami cukup setuju jika karakter Nomi, Paloma, dan mungkin Moneypenny, diperdalam kisahnya lewat film tersebut.

Rami-Malek-as-Safin-in-James-Bond-25-No-Time-To-Die

Sekarang mari kita bicara soal villain, yang sekaligus menjadi kelemahan dari film ini. Meski memiliki koneksi dengan trauma Madeleine di masa lalu, Lyutsifer Safin adalah karakter paling tidak menarik di film ini. Ia gagal memberikan impact yang kuat di No Time to Die.

Sosok Safin seakan tidak terasa keberadaannya. Motivasi yang hanya mengandalkan keinginan balas dendam belaka, terasa sangat klasik menurut kami. Dari semua villain Bond versi Daniel Craig sejauh ini, Safin mungkin adalah yang paling hambar.

Kalau kita bandingkan dengan villain lainnya seperti Raoul Silva dari film Skyfall, impact-nya jelas jauh berbeda. Meski sama-sama didorong oleh keinginan balas dendam, ia sukses menghadirkan teror yang begitu berdampak dan menyulitkan MI6.

Kesimpulan

B25_31842_RC2

Terlepas dari segala kekurangannya, No Time to Die adalah film penutup James Bond yang sempurna, sekaligus pahit. Ia memang tidak sebagus Skyfall, namun tidak seburuk Quantum of Solace, serta mampu menyajikan konklusi emosional yang sama sekali tidak kami duga sebelumnya.

Adegan laga yang sengit, gadget ala James Bond yang super canggih, masih akan kamu temui di film ini. Beberapa karakter pendukung yang tampil di film ini, seperti Paloma, Nomi, Q, Moneypenny, hingga M, berhasil memberikan poin tambah.

Kalau kamu mengikuti film James Bond era Daniel Craig sejak awal, maka No Time to Die adalah film yang tidak boleh kamu lewatkan. Sedikit tips dari kami, pastikan kamu menyaksikan empat film Bond sebelumnya, atau setidaknya Spectre, sebelum menyaksikan No Time to Die agar semakin paham dengan konflik yang terjadi.

Review: 7,5/10


Bagi kalian yang mau top-up game kesayangan kalian bisa langsung kunjungi UniPin! Proses cepat dan harga murah! Subscribe channel YouTube UniPin Gaming untuk nonton konten game menarik.

Follow akun sosial media kami di:
Facebook: UP Station Indonesia
Twitter: @Upstationasia
Instagram: @upstation.asia

Yuk gabung di grup Discord kami!
Discord: UniPin Official Community

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


Aplikasi UP Station
telah tersedia sekarang
Buka Artikel
Download Aplikasi