[Review] Jurassic World: Dominion – Penuh Nostalgia, tapi Absurd

4 weeks ago 0 Comments

Kisah spesies dinosaurus yang coba dibangkitakan di era modern akhirnya resmi berakhir lewat film Jurassic World: Dominion. Film ini menjadi penutup untuk seri Jurassic Park yang rilis pertama kali di tahun 1993, sekaligus penutup trilogi Jurassic World.

Memang jika diperhatikan, film-film sekuel yang tayang selama ini cukup sulit untuk mengejar kualitas yang sama dengan film Jurassic Park pertama. Namun ketika 3 karakter utama di film orisinil diperkenalkan dalam trailer, sedikit mengangkat ekspektasi kami untuk film penutup ini.

BACA JUGA:

Lantas, apakah Dominion mampu menjadi penutup trilogi Jurassic World dan franchise Jurassic Park secara keseluruhan? Apakah ia mampu menyalip film Jurassic Park pertama yang legendaris itu?

Cerita yang Agak Menyimpang

adaaeraer

Jurassic World: Dominion berlatar 4 tahun setelah kejadian film Fallen Kingdom (2018). Konsekuensi dari keputusan yang diambil Owen (Chris Pratt), Claire (Bryce Dallas Howard), dan Maisie (Isabella Sermon) untuk melepas dinosaurus ke dunia luar diperlihatkan di film ini.

Berkat mereka, manusia kini harus hidup berdampingan bersama dengan dinosaurus, dan memasuki era baru yang dinamai Ian Malcolm sebagai Neo-Jurassic Age.

Meski manusia sudah berusaha sekuatnya untuk hidup berdampingan dengan dinosaurus, segudang masalah keseimbangan alam pun masih terjadi di dunia berkat hal ini. Salah satunya adalah masalah krisis pakan yang berpotensi rusak dengan cepat dikarenakan hama belalang berukuran jumbo yang membawa DNA prasejarah.

Lucunya, hal inilah yang menjadi alasan trio jagoan dari film Jurassic Park, yaitu Alan Grant (Sam Neill), Ellie Satler (Laura Dern), dan Ian Malcom (Jeff Goldblum) untuk berkumpul kembali untuk memecahkan masalah.

Usut punya usut, hama ini merupakan pekerjaan kotor BioSyn, sebuah perusahaan teknologi baru yang kini meneliti sekaligus memberikan lahan agar dinosaurus terus tumbuh.

Di sisi lain, Owen dan Claire kini tinggal bersama dan mengasuh Maisie, yang merupakan hasil kloning anak perempuan salah satu  pembuat Jurassic Park, Benjamin Lockwood. Masalah mulai datang ketika Maisie kini menjadi incaran BioSyn, sebab mereka percaya bahwa DNA yang ada di tubuhnya bisa menjadi penyeimbang krisis saat ini.

Sejujurnya kami agak sedikit kecewa dengan masalah utama yang hadir di film ini. Rasanya, film ini tidak lagi menjadikan dinosaurus sebagai pokok masalah utama seperti di film-film sebelumnya, karena kini fokusnya mengarah ke masalah hama tanaman, yang menurut kami sangat aneh.

Elemen dinosaurus di film ini rasanya hanya hadir sebagai pemanis, yang untungnya, sedikit menyelamatkan film ini dari cerita yang menurut kami agak absurd, sebab porsinya yang masih cukup banyak.

Selain itu, ada banyak hal-hal klise yang membuat kami kadang garuk-garuk kepala. Salah satu contohnya seperti pertemuan antara Owen, Claire, Maisie, dengan Alan, Ellie, dan Ian yang terlalu kebetulan.

Elemen Aksi, Horor, dan Nostalgia yang Menyenangkan

jurassic-world-dominion-dewanda-wise-laura-dern-clickthecitycom-27377c5ec393edc1342e125bd0ca1235

Film Jurassic Park: Dominion berusaha sekuat tenaga untuk mengangkat kembali elemen horor dan menegangkan yang diciptakan film Jurassic Park pertama. Untungnya mereka cukup berhasil di bagian ini.

Film ini kembali menghadirkan adegan aksi menegangkan yang nikmat untuk disaksikan. Elemen horor yang menurut kami kurang nampol di beberapa film sebelumnya, tampil sedikit lebih baik di film ini.

Merasakan deg-degan ketika sang karakter harus bersembunyi dari endusan Therizinosaurus, atau ketika berusaha kabur dari kejaran Giganotosaurus, sepertinya menjadi beberapa bagian menegangkan favorit kami.

Pertarungan antar dinosaurus juga kembali hadir di film ini, dan lagi-lagi, T-Rex kembali digambarkan sebagai sosok “jagoannya”. Hanya saja, karena plot utama cerita film ini tak lagi tentang dinosaurus, maka pertarungan binatang purba di film ini benar-benar menjadi pemanis yang numpang lewat begitu saja.

Mereka hanya dipaksa muncul sebagai formalitas saja dan tidak ada nyangkut-nyangkutnya sama sekali dengan cerita, sehingga cukup untuk membuat kami mengernyitkan dahi.

Bahkan ketika duel klimaks antara dua dinosaurus raksasa terjadi di akhir film, Owen sempat mengatakan, “Yup, pertarungan ini bukan tentang kita,” dan langsung pergi menyelamatkan diri. Adegan ini membuat kami sedikit tertawa, sebab menggambarkan dengan pas betapa anehnya cerita di film ini.

Selain itu, usaha mereka untuk kembali mempertemukan kembali trio jagoan Jurassic Park pertama, berhasil membangkitkan rasa nostalgia kami. Masing-masing karakter berhasil diberikan spotlight-nya sendiri untuk bersinar. Lagi-lagi, gaya Ian Malcolm yang terasa “Jeff Goldblum banget”, masih jadi favorit.

Kesimpulan

jurassic-world-dominion-1_169

Sejujurnya, film Jurassic World: Dominion terasa kurang solid untuk menutup triloginya sekaligus franchise panjang Jurassic Park. Namun mengingat performa 2 film sebelumnya yang terkesan biasa saja, kami memang tidak menaruh banyak ekspektasi ketika duduk di bangku penonton. Tidak seperti film Doctor Strange 2 yang sukses menjatuhkan ekspektasi besar kami.

Masalah terberat film ini menurut kami adalah dari sisi cerita yang terlalu absurd dan memaksa, seolah-olah sang penulis cerita sudah mulai kehabisan ide konflik yang ingin dimasukkan ke dalamnya. Untungnya, hal itu cukup berhasil diobati dengan adegan aksi dan horor yang cukup untuk membuat nafas penonton ikut terpacu.

Selain itu, aspek nostalgia yang coba mereka angkat juga cukup untuk menghibur penonton, terutama bagi mereka yang memang mengikuti trilogi Jurassic Park pertama. Hanya saja, durasi 2 jam lebih sedikit membuat film ini terasa sedikit dragging dari awal hingga akhir.

Lantas, apakah film ini mampu menyaingi film Jurassic Park pertama? Jawabannya adalah tidak. Setidaknya, ia mampu menjadi obat rasa kangen yang ampuh, terlepas dari alur ceritanya yang memang kurang menarik.

Kalau kamu nge-fans berat dengan film Jurassic Park terutama dengan trio jagoan utamanya, maka Jurassic World: Dominion wajib kamu saksikan. Kalau kamu menginginkan film yang fokus ceritanya masih berkutat soal dinosaurus, sayangnya film ini bisa kamu lewatkan.

Rating: 6.5/10


Dapatkan berita gaming dan informasi menarik lainnya seputar dunia game, esports, film, anime, dan lainnya hanya di UP Station.

Bagi kalian yang mau top-up game kesayangan kalian bisa langsung kunjungi UniPin! Proses cepat dan harga murah!

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru dan berita gaming lainnya di akun sosial media kami:
Facebook: UP Station Indonesia
YouTube: Upstation Media
Twitter: @upstationmedia
Instagram: @upstation.media

Yuk gabung di grup Discord kami!
Discord: UniPin Official Community

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


Aplikasi UP Station
telah tersedia sekarang
Buka Artikel
Download Aplikasi