[Review] Last Night in Soho: Film Horor yang Stylish dari Edgar Wright!

6 months ago 0 Comments

Usai meramu trilogi Three Flavours of Cornetto yang terdiri dari Shaun of the Dead, Hot Fuzz, dan The World’s End yang melejitkan namanya, Edgar Wright kembali bereksperimen dengan mainan baru.

Baby Driver adalah salah satu contoh filmnya yang berbeda, tapi punya rasa khas yang sama. Terbaru, ia baru saja merilis Last Night in Soho, sebuah film layar lebar bergenre horor pertamanya.

Mengingat ini pengalaman pertamanya dalam meramu film horor, apakah Last Night in Soho mampu mengimbangi kualitas film lainnya di genre ini? Apakah magic ala Edgar Wright masih terasa di film yang satu ini meski dengan genre yang berbeda dari biasanya?

Baca juga:

Sinopsis

6134acfda1e5e7001996e49f

Last Night in Soho berfokus ke karakter Eloise Turner (Thomasin McKenzie) atau kerap di sapa Ellie, seorang gadis muda asal desa kecil Redruth di Cornwall, yang baru saja meniti pendidikan di sekolah fashion ternama di London.

Lingkungannya yang dirasa tidak pas dengannya, memaksa Ellie untuk pindah tempat tinggal, dari dormitory kampus ke sebuah kamar kosong yang disewakan di tengah kota London.

Saat malam pertama ketika tinggal di tempat baru tersebut, ia mendapat mimpi unik yang membawanya berteleportasi ke kota London tahun 60-an, era favorit Ellie yang kerap terngiang di kepalanya.

Di dalam mimpinya ia melihat seorang gadis muda dengan rambut pirang bernama Sandie (Anya Taylor-Joy), yang melamar sebagai penyanyi di bar Café de Paris.

Mimpi indah tersebut menjadi awal obsesi Ellie dengan Sandie dan kisah yang berjalan di mimpinya. Yang tidak ia ketahui, mimpi unik yang ia lihat ketika tidur berujung ke petaka dan misteri yang menantinya.

Film Horor yang Stylish dan Elegan

exz0ozmibe1m9endfu9b

Last Night in Soho adalah karya Edgar Wright yang tidak biasa. Bisa dipastikan bahwa film yang satu ini sangat berbeda dari karyanya yang sebelumnya. Baru kali ini ia mengusung konsep cerita yang begitu kompleks, namun tetap mudah dicerna.

Ia memperlihatkan seperti apa jadinya jika kita dapat mengunjungi masa lalu melalui alam mimpi. Yang bikin makin menarik, penglihatan masa lalu yang ia lihat melalui mimpi ternyata kejadian nyata. Mimpi Ellie seakan menjadi pelarian indah dari kehidupan nyatanya yang kurang begitu menyenangkan.

Alur yang ia hadirkan di film ini juga cukup nikmat. Paruh pertama film ini terasa begitu menyenangkan dan magical. Namun seiring dengan bertambahnya durasi, tone yang disajikan semakin dark. Di sanalah elemen horor di film ini perlahan muncul ke permukaan.

Last-Night-in-Soho-review-featured-2

Sebagai tokoh utama, sosok Ellie dan Sandie berhasil menjadi show stealer di film ini. Ellie diperlihatkan sebagai gadis manis lugu yang masih tidak terbiasa dengan pergaulan ibu kota. Namun perlahan, sosoknya mulai berubah mengikuti obsesinya dengan Sandie yang makin menjadi-jadi.

Sedangkan Sandie, adalah gadis muda yang hidup di era 60-an, yang berusaha memanjat ke dunia hiburan sebagai penyanyi di sebuah bar kenamaan di eranya, berkat bantuan Jack yang kelak menjadi manajernya.

Lewat kacamatanya, kita diperlihatkan dengan sisi glamor era 60-an yang memang tampak megah, namun penuh dengan eksploitasi di baliknya sekaligus sisi gelap dunia malam London.

Gaya bercerita yang memang agak kompleks ini, berhasil dijahit dengan sangat rapi sehingga mudah dicerna dan tidak membosankan sama sekali.

Selain cerita, yang patut mendapatkan dua jempol dari kami adalah sinematografinya yang begitu apik. Edgar Wright dan sang sinematografer Chung-hoon Chung, menurut kami sukses memanjakan penonton dari aspek visual dan pengambilan gambar yang super keren.

Anya-Taylor-Joy-in-Last-Night-in-Soho-Ending

Ellie memang punya kapabilitas untuk melihat kehidupan Sandie di masa lalu. Di beberapa adegan, Ellie tampak meniru tiap gerakan Sandie dengan sangat detail melalui kaca besar yang terpasang di berbagai area bar, menggambarkan seakan-akan tubuh Ellie menjelma menjadi Sandie di saat yang bersamaan.

Salah satu yang membuat kami terpana adalah adegan di mana Sandie dan Ellie secara bergantian berdansa dengan Jack. Mulut kami menganga lebar setelah mengetahui fakta bahwa adegan tersebut dibuat tanpa menggunakan CGI sama sekali, melainkan menggunakan teknik long take atau continuous shot yang benar-benar epik.

Tidak lupa, segudang lagu-lagu jadul era 60-an, sukses merapatkan atmosfir film ini sehingga semakin mantap. Beberapa lagu legendris yang dimasukkan ke dalam film ini, seperti “Wishin’ and Hopin'” dari Dusty Springfield, “Eloise” dari Barry Ryan, dan masih banyak lagi.

Hanya saja jika dibandingkan dengan film horor lainnya, Last Night in Soho tidak terasa semenakutkan kompetitornya. Meski terlihat begitu stylish dan elegan, namun film ini kurang mampu mempertahankan ketegangan yang ada di sepanjang film. Untungnya, beberapa plot twist yang tersimpan rapat di beberapa bagian, sukses menjadi bumbu kejutan yang manis.

Kesimpulan

4139_d017_00034_rc1631064047_wide-18485737757fb661443e4dc6e9e331809821685f-s1100-c50

Last Night in Soho bukanlah film horor yang biasa. Meski melabeli diri dengan genre horor, film ini masih dibalut dengan magic yang khas dari Edgar Wright yang bisa kita rasakan di film-filmnya yang lain.

Memang jika dibandingkan dengan film horor lain sekelas Conjuring dan Annabelle, maka film ini tidak terasa setara. Jika kamu menginginkan film-film dengan feel yang serupa seperti yang kami sebutkan, lengkap dengan segudang adegan jump scare yang bikin jantung sehat, maka film ini sepertinya kurang cocok untuk kamu.

Tapi kalau kamu meginginkan film yang cukup segar dari segi konsep dan penceritaan, lengkap dengan sinematografi yang memanjakan mata, dengan kandungan horor yang tidak terlalu tebal, serta ingin menyaksikan karya terbaru dari Edgar Wright yang (chef’s kiss), maka Last Night in Soho wajib kamu masukkan ke daftar nonton selanjutnya.


Bagi kalian yang mau top-up game kesayangan kalian bisa langsung kunjungi UniPin! Proses cepat dan harga murah! Subscribe channel YouTube UniPin Gaming untuk nonton konten game menarik.

Follow akun sosial media kami di:
Facebook: UP Station Indonesia
YouTube: UP Station Media
Twitter: @Upstationasia
Instagram: @upstation.asia

Yuk gabung di grup Discord kami!
Discord: UniPin Official Community

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


Aplikasi UP Station
telah tersedia sekarang
Buka Artikel
Download Aplikasi