Review Sri Asih: Film Superhero yang Punya Potensi

3 weeks ago 0 Comments

Film Indonesia yang bertemakan superhero sudah ada Gundala Putra Petir, Satria Dewa: Gatotkaca, dan sekarang ada lagi Sri Asih, sebagai penantang baru.

BACA JUGA:

Dengan mengusung konsep perempuan sebagai tokoh utama di film bertemakan superhero, Sri Asih tampaknya sangat ambisius untuk menciptakan ikon superhero perempuan layaknya Wonder Woman.

Sri Asih mengisahkan tentang:

Alana yang tidak mengerti mengapa dia selalu dikuasai oleh kemarahan, tapi dia selalu berusaha untuk melawannya. Alana lahir saat letusan gunung berapi yang memisahkan dia dari kedua orang tuanya. Alana menyambung hidupnya dengan diadopsi oleh seorang wanita kaya yang berusaha membantunya menjalani kehidupan normal. Akan tetapi, saat dewasa, Alana menemukan kebenaran tentang asal muasal dirinya: Alana bukan manusia biasa. Dia bisa menjadi kebaikan untuk kehidupan, atau menjadi kehancuran bila ia tidak dapat mengendalikan amarahnya.

Berikut review lengkap Sri Asih oleh UP Station!

WARNING: Spoiler alert! Akan ada beberapa bagian cerita yang akan di-spoiler oleh penulis, demi melengkapi review Sri Asih. Bila kamu tidak keberatan dengan spoiler, feel free untuk terus membaca sampai habis.

Review Sri Asih

Sri Aziih

Perlu dicatat, Sri Asih adalah film yang disutradarai oleh Upi, yang notabene pernah menggarap beberapa proyek film besar yang ikonik, seperti Serigala Terakhir, My Stupid Boss 2, dan lain-lain.

Dalam Sri Asih, Upi tidak bekerja sebagai one man army, tetapi dia ditemani langsung oleh Joko Anwar, sosok di balik Gundala, Pengabdi Setan 2 yang baru rilis beberapa waktu lalu, dan segudang masterpiece lain.

Harapannya, bila dua sosok ini bergabung di satu film, tentu kita semua mendambakan Sri Asih menjadi sebuah film superhero kelas kakap yang mungkin bisa bersaing dengan seri besutan DC/Marvel, ‘kan?

Sayangnya, harapan itu sedikit pupus setelah kamu menonton langsung sampai habis Sri Asih. Well, at least, Sri Asih tidak berakhir se-messed up Satria Dewa: Gatotkaca.

Secara plot, Sri Asih sukses bikin geleng-geleng kepala. Di babak awal, Sri Asih bisa membuat para penonton invested dengan plot yang dihadirkan. Satu demi satu karakter diperkenalkan, perkenalan dari protagonis utama hingga sang villain dikemas secara apik.

Pevita Pearce yang ditunjuk untuk memerankan Alana, karakter utama di Sri Asih, bisa dibilang menjadi salah satu keputusan yang jenius. Sebab, sang CIO MORPH Esports tersebut sangat cocok untuk merepresentasikan seorang Alana secara sempurna, baik bila kita bicara secara pesona dan persona.

Sayangnya, Alana yang diperankan Pevita bukanlah seorang protagonis yang sempurna. Walaupun tampil ciamik, lengkap dengan koreografinya, Pevita bisa dibilang terlalu “kaku” dalam berdialog.

Karakter lain yang dapat mendapatkan spotlight adalah Tangguh yang diperankan oleh Jefri Nichol. Dikisahkan, Tangguh ini adalah seorang nerd yang sering dirundung semasa kecilnya, tetapi selalu diselamatkan oleh Alana.

Unik banget bisa melihat seorang aktor yang terkenal cadas, harus mengadaptasi karakterisasi utuh seorang nerd. Memang tidak terlalu cocok, but it still works, jadi tidak ada alasan untuk mencemooh karakter ini.

Selain itu, keluarga Adinegara pun tampak punya potensi yang sangat menjanjikan. Sayangnya, in the end of the story, keluarga Adinegara hanya memberikan impresi sebagai pelengkap cerita, sebab mereka bukanlah sosok yang jadi “the real deal“-nya, spoiler alert!

Memasuki babak pertengahan hingga akhir, cerita yang dihadirkan Sri Asih bak dikerjakan dengan SKS (sistem kebut semalam). Plot terkesan dibuat sangat buru-buru, hingga membuat kami bisa membuat reaksi, “Lha, kok tiba-tiba bisa begini?”

Sri-Asih

Banyak plot hole yang membuat cerita Sri Asih jadi terkesan membingungkan. Let’s say, motif Alana untuk bisa sepakat menjadi Sri Asih. Padahal semula di dalam diri Alana, hanya terpikir tentang ibunya saja yang sedang sekarat.

Kok bisa setelah mendengar cerita dari stranger tentang legenda Dewi Asih dan Dewi Api yang dibintangi langsung oleh Dian Sastro, Alana langsung mau-mau aja jadi pahlawan? Kok enggak ada rasa curiga atau skeptis sama sekali?

Well, kita memang jarang sekali mendapatkan monolog dari diri Alana, jadi tidak bisa mengetahui secara pasti apa yang membuat hati Alana tergerak untuk menjadi seorang Sri Asih, sang pembela kebenaran.

Lalu, ada pula keluarga Adinegara yang di awal tampak acap unjuk gigi, tetapi ujung-ujungnya malah bertindak bak serigala ompong yang kebingungan dengan ceritanya sendiri.

Kita melihat Prayogo Adinegara (Surya Saputra) sebagai figur crazy rich businessman dan wise guy ala mafioso. Saat kematian anaknya Mateo (Randy Pangalila) tiba, Prayogo semakin menunjukkan kebengisannya dengan melakukan aksi balas dendam membom rumah sakit tempat ibu Alana dirawat. “Pokoknya, si Alana itu harus mati karena telah membunuh anakku!” mungkin itu pikir Prayogo, saat itu.

Like in the few scene after that, Prayogo tiba-tiba sudah punya ambisi lain dan mengesampingkan Alana yang sebelumnya ia sangat-sangat murkai karena diduga membunuh anaknya. Aneh banget ‘kan?

Ada pula karakter polisi Jatmiko yang tiada angin, tiada hujan, tiba-tiba jadi main villain di babak klimaks Sri Asih. Memang, masuk akal kalau karakter ini bisa jadi villain, tetapi seperti yang disebut di awal, babak pertengahan hingga akhir film ini bak digarap dengan sistem kebut semalam. Terlalu buru-buru, sehingga mengacaukan ritme awal film yang sudah sempurna.

Kekurangan selanjutnya datang dari aspek koreografi. Koreografi adalah aspek penting dari sebuah film superhero, dan Sri Asih masih cukup kurang dalam hal tersebut. Alangkah baiknya bila gerakan-gerakan koreografi di sekuel selanjutnya tidak lagi terlihat “kaku”.

Kualitas dari engineering visual dan audio jadi antitesis dari tudingan “medioker” yang acap ditulis UP Station untuk Sri Asih. Sangat memanjakan penonton. Top notch karena sukses melebihi film-film kelas lokal lainnya! Sayang, di beberapa bagian, masih belum dipoles secara sempurna, sehingga terlihat cukup mid.

Overall, Sri Asih adalah film superhero medioker, yang sebenarnya punya potensi untuk bisa lebih bagus. Merujuk ke bagian epilog, tampaknya ada dua hal yang bisa dikonfirmasi untuk ke depannya: Sri Asih tergabung dalam satu universe dengan seri Gundala, serta cerita Sri Asih tidak akan berhenti di film ini!

Mungkin saja, nantinya film Godam akan jadi momentum bagi Sri Asih untuk unjuk gigi kembali! Tertarik nonton Sri Asih, enggak?

Final score: 6/10


Dapatkan berita gaming dan informasi menarik lainnya seputar dunia game, esports, film, anime, dan lainnya hanya di UP Station.

Bagi kalian yang mau top-up game kesayangan kalian bisa langsung kunjungi UniPin! Proses cepat dan harga murah!

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru dan berita gaming lainnya di akun sosial media kami:
FacebookUP Station Indonesia
YouTube: Upstation Media
Twitter: @upstationmedia
Instagram: @upstation.media

Yuk gabung di grup Discord kami!
Discord: UniPin Official Community

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


Aplikasi UP Station
telah tersedia sekarang
Buka Artikel
Download Aplikasi