Review The Sandman: Kisah Melodramatis untuk Para Intelektual

2 months ago 0 Comments

Jauh sebelum review ini dibuat, komik The Sandman karya Neil Gaiman telah sukses menjadi salah satu graphic novel terbaik sepanjang masa. Semua itu berkat kisahnya yang memukau dan menginspirasi berbagai karya lainnya, khususnya untuk genre fantasy.

Diterbitkan di bawah bendera DC Comics pada tahun 1989, berbagai usaha telah dilakukan untuk mengadaptasi kisah The Sandman ke dalam bentuk layar lebar Namun, semuanya menemui jalan buntu, hingga akhirnya The Sandman sempat disebut sebagai unfilmable.

BACA JUGA: 

Untungnya sang kreator Neil Gaiman, bersama David S. Goyer dan Allan Heinberg, tidak menyerah hingga akhirnya merampungkan kisah ini untuk diadaptasi dan meyakinkan Netflix untuk membuatnya menjadi sebuah limited series sebanyak sepuluh episode.

Sama seperti versi graphic novel aslinya, serial The Sandman di Netflix ini merupakan sebuah tontonan intelektual yang dipenuhi berbagai kisah melodramatis, sebuah adaptasi komik yang amat epik. Simak review lengkap The Sandman di bawah ini!

Adaptasi yang Akurat

The Sandman merupakan sebuah kumpulan kisah mengenai hubungan manusia dengan personifikasi dari berbagai makhluk metafisika yang menguasai sebuah aspek dalam kehidupan manusia dan dikenal dengan nama The Endless.

Mereka adalah Destiny (Takdir), Death (Kematian), Dream (Mimpi), Destruction (Kehancuran), Desire (Nafsu), Delirium (Kegilaan), dan Despair (Keputusasaan).

para endless
The Endless di komik (ki-ka: Delirium, Death, Destruction, Dream, Destiny, Desire, Despair)

Diperankan oleh Tom Sturridge, Dream alias Morpheus selaku tokoh utama dalam serial ini digambarkan dengan amat akurat seperti komik, yaitu sebagai pria tinggi, pucat, dan kurus dengan rambut acak-acakan.

Akting Tom yang apik berhasil memperlihatkan Dream sebagai sosok yang terlihat muda dan naif sebagai dewa yang tidak begitu mengenal kehidupan manusia, sekaligus bijak dan berwibawa layaknya seseorang yang sudah ada sejak awal mula dunia tercipta.

Di komik, Dream biasanya mengenakan jubah hitam ala dewa zaman dahulu, sementara Dream versi Netflix digambarkan lebih stylish dengan jaket dan jas yang berubah mengikuti perkembangan zaman.

Selain Dream, karakter-karakter lainnya yang ditampilkan juga terlihat begitu karismatik dan menawan, seperti misalnya Lucifer Morningstar (Gwendoline Christie), Lucienne (Vivienne Acheampong), Joanna Constantine (Jenna Coleman), hingga Roderick Burgess (Charles Dance).

SandmanCharacterPosters
Poster karakter The Sandman

Tak hanya penampilan para tokohnya, hampir seluruh scene dalam serial ini disajikan dengan begitu indah, sehingga memanjakan mata para penonton, persis seperti komik aslinya yang menampilkan gaya visual yang unik dan menarik.

Eksplorasi Filosofis Mimpi dan Hidup Manusia

Di balik visual yang amat memukau, daya tarik utama dari The Sandman terletak pada dalamnya cerita yang disajikan. Seluruh episode dalam The Sandman dibuat layaknya sebuah anthology, kumpulan kisah-kisah pendek yang mampu berdiri sendiri dengan satu benang merah yang menyambungkan semuanya.

the sandman
Dream & Lucienne

Seperti komiknya, kisah-kisah tersebut mengeksplorasi lebih dalam mengenai konsep mimpi dan aspek lainnya dalam kehidupan kita, sekaligus memperlihatkan apa artinya kehidupan manusia, baik dari kacamata makhluk abadi seperti Endless ataupun manusia biasa.

Episode keenam berjudul “The Sound of Her Wings” merupakan salah satu yang terbaik menurut kami. Episode tersebut menceritakan Dream yang dikunjungi oleh saudarinya, Death. Sambil berjalan dan bertukar cerita, Death menjalankan tugasnya, yaitu menjemput mereka yang usianya telah habis.

Berbeda dengan malaikat kematian yang biasanya digambarkan menyeramkan, Death di sini datang dengan penuh kehangatan, layaknya seorang teman lama yang bertamu setelah lama tak bertemu. Meski banyak yang awalnya menolak dan merasa tidak siap, pada akhirnya semua orang meninggalkan dunia ini dengan tenang berkat pembawaan Death yang kalem.

the sandman
Dream dengan pakaian lengkapnya

Di episode kelima berjudul “24/7“, kita menyaksikan saat John Dee menggunakan kekuatan ruby milik Dream untuk menghilangkan batas kejujuran dalam diri manusia, sehingga yang tersisa hanyalah sifat naluriah yang brutal dan kejam seperti binatang.

Di situlah Dream memperlihatkan pada John akan pentingnya manusia memiliki mimpi, agar dapat terus memiliki harapan dan memberi batasan antara kenyataan dan kebohongan.

Pengalaman Imersif yang Melekat

Meski demikian, serial ini tetaplah belum sempurna. Penyajian kisah dalam bentuk anthology yang terpisah-pisah menjadikan pacing dalam serial ini terasa agak lambat dan mengurangi rasa penasaran penonton untuk segera menyaksikan episode selanjutnya.

Selain itu, seperti film-film Hollywood saat ini yang banyak mengakomodir kaum SJW, tentu saja serial ini pun terpaksa melakukan berbagai penyesuaian agar memenuhi ekspektasi mereka.

Contohnya adalah perbedaan desain Death menjadi seorang wanita berkulit hitam, perubahan gender Constantine menjadi seorang wanita, dan banyaknya unsur LGBTQ+ yang dimasukkan ke dalam cerita.

Well, mereka yang open-minded tentu tidak masalah dengan hal-hal tersebut, tetapi sepertinya yang berpikiran lebih konservatif akan tidak setuju.

the sandman
Dream di gerbang neraka

Terlepas dari permasalahan-permasalahan di atas, The Sandman pada akhirnya tetaplah sebuah pengalaman imersif yang membuka cakrawala pikiran dalam memahami berbagai konsep kehidupan, sekaligus menjadi hiburan visual yang memukau dan memanjakan mata.

Semoga Netflix memberi lampu hijau untuk pembuatan season keduanya sehingga kita bisa sekali lagi menyaksikan sepak terjang sang Raja Mimpi dalam menjaga keseimbangan antara The Dreaming dan The Waking World, serta kemunculan Endless lain yang belum sempat hadir di season pertamanya ini.

Jika kamu menyukai film semi-superhero yang berbobot seperti misalnya Watchmen, maka kamu wajib menonton serial The Sandman ini.

SKOR: 8/10


Dapatkan berita gaming dan informasi menarik lainnya seputar dunia game, esports, film, anime, dan lainnya hanya di UP Station.

Bagi kalian yang mau top-up game kesayangan kalian bisa langsung kunjungi UniPin! Proses cepat dan harga murah!

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru dan berita gaming lainnya di akun sosial media kami:
FacebookUP Station Indonesia
YouTubeUpstation Media
Twitter@Upstationmedia
Instagram@upstation.media

Yuk gabung di grup Discord kami!
DiscordUniPin Official Community

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


Aplikasi UP Station
telah tersedia sekarang
Buka Artikel
Download Aplikasi