[Review] Zack Snyder’s Justice League – Penantian yang Sama Sekali Tak Sia-sia

1 year ago 0 Comments

Sebuah penantian panjang yang terbayar lunas. Zack Snyder’s Justice League atau Snyder Cut merupakan film yang seakan “bangkit dari kubur. Ia terlahir kembali setelah fan penggila film komik melayangkan kampanye #ReleaseTheSnyerCut selama kurang lebih 3 tahun di sosial media dan ajang ekshibisi komik di luar negeri.

Usai Warner Bros menepis kabar bahwa film Snyder Cut tidak pernah ada, siapa yang menyangka kalau pada tanggal 18 Maret kemarin kita dapat menyaksikan film Justice League versi seutuhnya dari visi sang sutradara, Zack Snyder. Film Justice League yang secara mengejutkan, amat berbeda dengan versi yang dilepas tahun 4 tahun lalu di bioskop.

Lantas pertanyaannya, seberapa baik Zack Snyder’s Justice League?

Sinopsis

steppenwolf (1)

Zack Snyder’s Justice League memiliki benang merah cerita yang serupa dengan Justice League versi 2017. Film tersebut mengambil latar waktu usai film Batman v Superman, pasca tewasnya Man of Steel di tangan Doomsday.

Di saat dunia masih dirundung duka, ancaman besar dari galaksi lain datang. Ia adalah Darkseid, sang tirani penghancur semesta dari planet Apokalips. Melalui salah satu tangan kanannya, Steppenwolf, ia mencoba mengumpulkan kembali sebuah kotak bernama Mother Box berjumlah 3 buah yang tersebar di Bumi.

Usut punya usut, kotak sakti tersebut adalah kunci untuk mengubah tatanan seisi planet Bumi, sekaligus menjadi portal penghubung antara Apokalips, planet tempat tinggal Darkseid dengan Bumi.

Namun, Bruce Wayne telah memperkirakan ancaman besar yang akan terjadi di masa depan. Terlebih setelah ia mendapat pesan misterius dari Barry Allen dalam mimpinya yang kita lihat di film Batman v Superman.

Ia dan Diana Prince alias Wonder Woman, berusaha mencari manusia dengan kekuatan unik lainnya dan mengajaknya bergabung jika suatu saat ancaman yang dimaksud Bruce datang.

4 jam yang tidak terasa begitu lama

027fc3f3b2cb97d45722b6531b5ddc4e68-justice-league-snyder-differences.rhorizontal.w1200

Film garapan Zack Snyder ini nampaknya sah menjadi film adaptasi komik superhero dengan durasi paling panjang sejauh ini, yakni 4 jam 2 menit. Semua adegan yang ia ambil ketika masa syuting di tahun 2016, di tambah dengan beberapa adegan baru yang ia ambil pasca dirilisnya film ini, dijahit menjadi satu.

Meski punya durasi yang sangat lama, secara mengejutkan film ini tidak membuat bosan. Memang, alur yang dimiliki film ini terasa lambat, terutama di menit-menit awal. Namun, Snyder mampu membuat adegan demi adegan tetap menarik dan tak membuat jenuh penonton.

Mengingat durasi yang begitu panjang, film ini pun dibagi menjadi 7 babak. Dalam sebuah wawancara dengan salah satu YouTuber, Snyder menyarankan untuk melakukan break sejenak usai menyaksikan chapter 4.

Karakter yang kini diperdalam

stonecyborg

Salah satu keuntungan dari film berdurasi 4 jam adalah Snyder mampu mengeksplorasi tiap karakter lebih dalam lagi. Hal ini memang patut ia lakukan mengingat Justice League memperkenalkan 3 karakter baru yang belum pernah muncul sebelumnya: Aquaman, The Flash, dan Cyborg.

Menurut kami, Cyborg mendapatkan pendalaman karakter yang paling bagus di sini, terutama jika dibandingkan dengan film versi sebelumnya. Kalau kata Snyder, ia adalah heart of the movie”.

Benar saja, film ini mengulik kehidupan masa lalu karakter Victor Stone ini sebelum separuh tubuhnya ditempeli teknologi alien canggih. Mulai dari hubungan antara Victor dan ayahnya yang kompleks, hingga perjalanan menerima kekurangan yang ia milliki sebab bentuk tubuhnya yang kini tak biasa.

Sama halnya dengan Barry Allen, yang kini juga sedikit diperdalam baik dari backstory dan kemampuan supernya. Meski sama sekali tidak bertarung melawan musuh, namun Snyder membuat sosok The Flash terlihat lebih “berguna” di film ini.

Mulai dari menyelamatkan tahanan Parademons dari reruntuhan bangunan, hingga (yang paling mengejutkan) membalikkan waktu melalui speed force di pemuncak film.

Sedangkan Arthur Curry, well, dia tetap Aquaman super keren seperti sebelumnya. Masih terasa badass dengan gayanya, namun tanpa lelucon cringe yang membuat sekujur tubuh penonton merinding karena malu.

Bicara soal lelucon, film ini akhirnya terbebas dari bercandaan yang terkesan sangat dipaksakan dari versi sebelumnya. Tidak ada lagi Batman yang mengeluh sakit punggung usai di lempar Superman, Aquaman yang memuji kecantikan Wonder Woman karena menduduki lasso of truth, atau Superman yang jadi sok asik dengan Cyborg di bagian klimaks film.

Meski begitu, bukan berarti Snyder Cut hadir tanpa ice breaker. Humor yang terselip di film ini tetap ada, namun terasa jauh lebih natural dan dapat diterima penonton dengan baik.

Lois-Lane-justice-league-movie-43500066-1021-768-e1616166687394

Masa berduka Lois Lane yang ditinggal mati oleh Superman pasca film Batman v Superman lebih diperlihatkan. Momen ketika ia masih belum mampu move on dan kerap mendatangi monumen Superman setiap pagi, hingga pada akhirnya termenung tak percaya saat melihat Clark Kent melayang di atas gedung Metropolis usai kematiannya. Semua tergambar dengan sangat pas di film ini.

Bruce Wayne juga mendapat pengembangan karakter yang cukup kentara jika dibandingkan dengan film Batman v Superman. Usai kematian Superman, kini ia punya perbedaan perspektif. Untuk pertama kalinya ia beroperasi berdasarkan harapan.

Dari sosok Batman pendendam di BvS, kini menjadi sosok pemimpin yang menyatukan anggota tim lainnya. Semua ia lakukan sebagai penebusan dosa serta demi meneruskan visi Superman yang gagal ia pahami di film sebelumnya.

Bahkan, Steppenwolf yang menjadi musuh utama di film ini juga mendapatkan pendalaman karakter yang jauh lebih baik. Motivasinya untuk datang ke Bumi kini dijelaskan. Ia yang sempat mengkhianati Darkseid di masa lalu, kini wajib mencari dan menumbalkan 50 ribu planet untuk Darkseid jika ingin kembali diakui sebagai tangan kanan.

Lebih dramatis, lebih intens

wallhaven-y8x3o7

Meskipun ada beberapa adegan action serupa yang telah diperlihatkan di film “Josstice League”, ketika dihidangkan di film ini, adegan tersebut berubah menjadi jauh lebih dramatis dan intens. Hampir semua adegan action di film ini mendapat feel serupa.

Ambil contoh ketika Steppenwolf yang Themyscira untuk merebut Mother Box dari para Amazons. Di versi sebelumnya, seluruh adegan tempur di sini terasa seperti adegan action biasa dengan cut yang cepat. Sedangkan di Snyder Cut, adegan pertempuran di Themyscira terasa lebih lama dan intens.

Sama halnya ketika momen pertarungan final di markas Steppenwolf. Tiap karakter kini mendapatkan porsi pertarungan yang jauh lebih pas. Batman kini diperlihatkan jauh lebih ­badass yang menghabisi ratusan pasukan Parademons dengan Batmobile serta tak terkesan hopeless.

Aquaman, Wonder Woman dan Cyborg yang juga mampu bertarung lebih intens dan seimbang melawan Steppenwolf. Hingga The Flash yang punya tugas lebih penting di sini ketimbang hanya menyelematkan warga di versi sebelumnya. Momen kehadiran Superman terasa lebih apik, lebih serius, dan tentu saja, tanpa adanya jokes cringe yang membuat kami merinding.

Scoring dari Junkie XL yang apik mampu membuat tiap adegan makin nendang. Salah satu yang paling memorable menurut kami adalah deretan musik ketika pertarungan final yang berjudul We Do This Together dan At the Speed of Force.

Karakter mengejutkan dan Knightmare yang bikin penasaran

snyder-cut

Adegan Knightmare akhirnya kembali hadir di versi Snyder Cut setelah sebelumnya sengaja dihilangkan dari versi 2017. Adegan ini memperlihatkan kilasan singkat dari masa depan, ketika Bumi dikuasai oleh Darkseid dan Superman jadi bidak utamanya.

Momen mengejutkan ketika Cyborg melihat kilasan masa depan saat Aquaman dan Wonder Woman tewas, sontak membuat kami kaget dan bengong. Di tambah lagi dengan dialog singkat tetapi kuat oleh Batman dan Joker di adegan Knightmare pada akhir film.

Meski pada saat tulisan ini dibuat Warner Bros memutuskan untuk tidak melanjutkan film DC versi Snyder di masa depan, adegan tersebut membuat kami semakin penasaran dengan cerita yang direncanakan oleh Zack Snyder selanjutnya.

Di sisi lain, Zack Snyder’s Justice League juga memperlihatkan sosok Martian Manhunter untuk kali pertama. Ia hanya muncul dua kali di film ini: ketika bertamu di apartemen Lois sebagai Martha Kent, dan pertemuannya dengan Bruce di akhir film.

Kehadirannya di film ini menyisakan sedikit plot hole, tetapi membuat kami penasaran dengan maksud dari kehadirannya di film selanjutnya (kalau ada).

Bukan film yang sempurna

Zack-Snyders-Justice-League-Snyder-Cut-Wonder-Woman-Flip-Steppenwolf

Meski tampil jauh lebih baik dari versi yang dilepas tahun 2017, bukan berarti film Zack Snyder’s Justice League hadir tanpa kekuarangan. Sama seperti film superhero kebanyakan, film ini mengandalkan efek CGI yang cukup berat dan masif.

Sayangnya, ada beberapa efek CGI yang terasa agak kasar dan kurang sedap dipandang mata. Contohnya seperti Wonder Woman menghajar 2 orang teroris pertama di menit awal, serta tubuh Cyborg yang pergerakannya terkadang kurang natural. Ada juga detail kecil seperti transisi yang kurang mulus ketika Aquaman menenggak bir di pelabuhan dan meluncur ke laut menuju Atlantis.

Selain itu, ada juga beberapa dialog yang menurut kami bisa lebih baik. Contoh seperti adegan Wonder Woman mencoba menghentikan Superman yang mengamuk di monumen usai dihidupkan kembali oleh The Flash.

Efek slow motion di film ini hadir sebagai pemanis yang apik, namun juga bumerang. Sebab penggunaan efek slow motion di film berdurasi 4 jam ini menurut kami terlalu banyak dan sering, sehingga membuat kami sedikit lelah. Bahkan menurut salah satu media ternama luar negeri, sebanyak 10% film Snyder Cut berisi adegan slow motion.

Kesimpulan

Snyder-Cut-Justice-League-Slow-Mo

Zack Snyder’s Justice League adalah doa panjang fan yang akhirnya terkabul. Jujur, kami sempat skeptis dengan respon publik ketika film ini pada tanggal 18 Maret kemarin. Apalagi setelah melihat respon yang kurang begitu baik di film Batman v Superman. Namun di luar dugaan, film ini mendapat respon yang luar biasa baik, meski tetap saja tak lepas dari kritik pedas sebagian media dan kritikus.

Bagi kami, Zack Snyder’s Justice League merupakan “balas dendam” yang sempurna. Film ini puluhan kali jauh lebih baik dari film “Josstice League” yang terkesan membingungkan. Durasi 4 jam lebih sedikit itu dimanfaatkan dengan sangat baik untuk membangun fondasi plot cerita dari Snyderverse yang lebih luas serta pendalaman dari tiap karakter.

Meski Warner Bros telah menetapkan sikap untuk tidak melanjutkan Snyderverse agar fokus ke proyek DC yang lain, tetapi fan termasuk kami sendiri sangat tertarik untuk melihat visi Zack Snyder selanjutnya untuk DC. Jika permintaan fans semakin besar, bukan tidak mungkin bagi Warner Bros dan HBO Max untuk kembali menggarap sekuel dari film ini.

Rating: 9/10


Bagi kalian yang mau top-up game kesayangan kalian bisa langsung kunjungi UniPin! Proses cepat dan harga murah! Subscribe channel YouTube UniPin Gaming untuk nonton konten game menarik.

Follow akun sosial media kami di:
Facebook: UP Station Indonesia
Twitter: @Upstationasia
Instagram: @upstation.asia

Yuk gabung di grup Discord kami!
Discord: UniPin Official Community

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


Aplikasi UP Station
telah tersedia sekarang
Buka Artikel
Download Aplikasi