“Sexy Killer”, Film Romantisme Tambang dan Para Elite Politik

2 years ago 0 Comments 644 views

Youtube menjadi media yang paling banyak dibicarakan menjelang hari-hari menuju pemilihan presiden. Selain video epic rap battle antara Jokowi dan Prabowo yang dibuat oleh Skinny Indonesia, ternyata ada satu video lagi yang cukup menarik perhatian warganet hingga tembus 5,7 juta viewers dalam tiga hari penayangan. Nama video tersebut adalah “Sexy Killer” yang dipublikasikan oleh Watchdoc Image.

“Sexy Killer” sebenarnya hanya sebuah film dokumenter yang merekam aktivitas pertambangan dan masyarakat di sekitarnya yang mau tidak mau terkena imbas berupa kerusakan rumah, lahan, hingga air minum.

Namun yang menarik di sini adalah dalang dibalik aktivitas tersebut yang menyeret para elit politik yang sedang berkontes dalam pilpres 2019.

“Sexy Killer” diawali dengan kehidupan pasangan di ibu kota yang tidak asing dengan pemakaian listrik.

Ya, listrik memang sudah menjadi kebutuhan sehari-hari, sehingga listrik bagi kita umpama zat adiktif yang tidak bisa dilepas walau sebentar. Memangnya kita bisa hidup satu hari saja tanpa listrik? Bahkan baru satu jam listrik mati, kita sudah mengeluh di media sosial.

Coba lihat isi rumah kita. Apakah kamu menonton televisi setiap harinya? Apakah kamu menyalakan lampu, AC, kipas angin? Apakah kamu mencharge handphone dan laptop? Apakah kamu memakai kulkas, blender, dan magic jar? Lalu, pernahkah kamu menghitung berapa daya listrik yang kamu habiskan per hari untuk menunjang aktivitasmu itu?

Dilansir dari kompas.com, beberapa peralatan rumah tangga ternyata memakan daya yang cukup besar, seperti AC Split 1/2 PK (430 watt), komputer (140 watt), kipas angin (103 watt), microwave (1270 watt), magic jar (465 watt), setrika (300 watt), pompa air (650 watt), pemanas air (400 watt), dan lain-lain.

Lalu, apakah kamu tahu bagaimana PLN mendapatkan daya sebesar itu? “Sexy Killer” akan membawa kamu menelusuri sebuah wilayah di Kalimantan Timur, di mana salah satu lokasi tambang batu bara terbesar di Indonesia berada. 

Pertama melihatnya, kamu juga akan disapa oleh berjuta-juta hektar tanah telah gundul dengan bekas galian yang dibiarkan begitu saja.

Dengan lokasi tambang yang berada persis di sekitar pemukiman warga, menyebabkan beberapa rumah mengalami kemiringan hingga hancur total. Jalanan banyak yang pecah dan amblas.

Bahkan air yang diminum oleh warga sekitar juga tidak lagi bening, melainkan berwarna keruh. Dan yang paling naas adalah banyak anak-anak yang kehilangan nyawa akibat jatuh ke lubang galian yang berada persis di dekat sekolah.

Lantas siapa yang harus disalahkan di sini? Pemerintah? atau pemilik perusahaan? Kedua pihak tersebut tampak tak acuh pada kondisi yang menimpa warga.

Dari rekaman wawancara pada Gubernur Kalimantan Timur, terlihat bahwa beliau hanya mengatakan “nasib” dan “turut prihatin” pada anak-anak yang menjadi korban dari lubang galian tersebut. 

Padahal menurut peraturan Menteri Lingkungan Hidup jarak minimal lubang galian dengan pemukiman warga adalah 500 meter, namun dalam video tersebut kita bisa lihat bahwa jangankan500 meter, 100 meter juga tidak sampai.

Setelah ditambang, batu bara dimasukkan ke dalam kapal tongkang untuk dikirimkan ke PLTU. Lagi-lagi pembangunan PLTU memakan banyak perselisihan. Para petani yang direbut sawahnya meski belum dibeli, nelayan yang ikannya hilang akibat tongkang batu bara yang melintasi lautan. 

Dan yang paling parah adalah asap pembakaran alias limbah B3 yang mengandung senyawa mematikan dan menimbulkan pencemaran tanah, tumbuhan bahkan udara sehingga membawa penyakit berbahaya bagi warga sekitar seperti batuk, sesak napas, asma, hingga kanker nasofaring (bagian atas tenggorokan).

Bahkan berdasarkan penelitian Green peace (2015), PLTU batu bara di Indonesia sudah menyebabkan kematian prematur 6500 jiwa setiap tahunnya.

Apakah masyarakat diam dan pasrah? Tentu saja tidak. Beragam aksi dan demonstrasi dilancarkan pada perusahaan dan PLTU yang telah mengecam keselamatan mereka. Namun hasilnya gugatan mereka lebih banyak ditolak di pengadilan, bahkan beberapa dari mereka berakhir di penjara.

Lebih jauh, “Sexy Killer” membawa kita pada siapa dalang yang berada dibalik aktivitas tersebut. Dari perusahaan PLTU, ada PT Adaro dengan beberapa nama terungkap seperti Sandiaga Uno (calon wakil presiden 02), Erwin Suryadjaya, Teddy Rachmat, Benny Subianto, dan Garibaldi Thohir (saudara kandung Erick Thohir, juru bicara TKN 01). 

Kemudian ada PT Rakabu Sejahtera, di mana Gibran Rakabumningraka (Putra ke-1 Presiden Joko Widodo) pernah menjadi pemegang saham dan komisaris, lalu digantikan Kaesang Pangarep (Putra ke-3 Presiden Joko Widodo).

PT Rakabu Sejahtera adalah perusahaan mebeul yang mempunyai berbagai aktivitas seperti kontruksi, pembebasan lahan, hingga pengembangan wilayah transmigrasi sehingga sering berhubungan dengan grup perusahaan tambang PT Toba Sejahtera yang dimiliki Luhut Panjaitan (Menteri Kemaritiman & timses Jokowi), dan 2 timses Jokowi yang menjadi komisaris yaitu Fachrul Razi dan Suaidi Marasabessy.

Nama-nama lain di tambang batu bara di antaranya adalah Oesman Sapta Oedang (penasihat TKN 01) di PT Total Orbit, Andi Syamsudin Arsyad (pernah menjadi bendahara TKN 01) di grup Johnlin, Hary Tanoesoedibjo (penasihat TKN 01, ketua umum Perindo) di MNC Energy & Natural Resources dan 9 anak perusahaan, Jusuf Kalla (Wakil Presiden, dewan pengarah TKN 01) di grup Kalla dalam 2 anak perusahaan.

Di kubu 02, ada Prabowo Subianto (calon presiden 02) yang memiliki 8 perusahaan tambang yang berada di Kalimantan Timur, Sandiaga Uno (calon wakil presiden 02) di PT Saratoga Investama Sedaya, PT Adaro, lalu ada Hasyim Djojohadikusumo (adik Prabowo, BPN 02) di PT Hitam Perkasa, dan Ferry Musyidan Baldan (BPN 02) pemilik 3 perusahaan tambang di Berau.

Lalu anehnya, perusahaan-perusahaan tambang yang telah menelan banyak korban tersebut juga mendapat label halal sehingga mempunyai saham syariah di pasar modal.

Label halal seharusnya diberikan pada perusahaan yang tidak melanggar prinsip-prinsip syariah, jika saja bukan Ma’ruf Amin (calon wakil presiden 01) yang menjabat sebagai ketua MUI, dewan pengawas syariah berbagai bank dan perusahaan asuransi.

Dari “Sexy Killer” kita dapat melihat bagaimana romantisme para elit politik dengan usaha pertambangan mereka. Bukan tidak mungkin bahwa majunya mereka dalam garda terdepan perpolitikan Indonesia adalah untuk mengamankan perusahaan beserta aset yang tersimpan di dalamnya. 

Namun saya menolak dengan keras bahwa film ini merupakan sebuah kampanye untuk golput alias tidak memilih. Saya justru melihat bahwa film ini menyadarkan bahwa kita tidak seharusnya memandang sebelah mata terhadap salah satu paslon, apalagi sampai timbul keributan.

Lihatlah alur perusahaan pertambangan, di mana mereka semua (kubu 01 & 02) sebenarnya saling bekerja sama, lantas mengapa kita yang tersulut kebencian?

Ciutan warganet akan film tersebut pun beragam. Ada yang salut dengan keberanian Watchdoc membuat film dokumenter ini, ada yang menyeru untuk membuka mata untuk kedua paslon presiden, ada yang menyeru untuk tidak golput walau kedua paslon sama-sama berada dalam lingkaran setan, dan ada juga yang menyeru bahwa inilah dilema perjuangan untuk menjadi negara maju.

Tapi, betulkah perjuangan ini hanya harus dirasakan oleh masyarakat bawah?

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Aplikasi UP Station
telah tersedia sekarang
Buka Artikel
Download Aplikasi